CompileDaily
Coding

China Peringatkan Risiko "Backdoor" di Claude Code, Anthropic: Itu Bukan untuk Pengguna China

Admin CompileDaily ·
Bagikan WhatsApp X Facebook Threads

Tuduhan pintu belakang tersembunyi dalam alat coding buatan AS ini justru dijawab santai oleh Anthropic dengan alasan yang tak kalah mengejutkan: pengguna yang dimaksud sebenarnya tidak pernah diizinkan memakainya sejak awal.

Kementerian Perindustrian dan Teknologi Informasi China (MIIT), lewat platform keamanan siber National Vulnerability Database (NVDB), mengeluarkan peringatan resmi pada Rabu, 8 Juli 2026. Peringatan ini menyebut Claude Code, alat coding agentic buatan Anthropic, mengandung kerentanan keamanan berupa "backdoor" yang dinilai serius bagi organisasi maupun individu yang menggunakannya.

Menurut NVDB, alat tersebut memiliki mekanisme pemantauan bawaan yang dapat mengirim informasi sensitif pengguna, termasuk lokasi geografis dan identitas pengguna, ke server jarak jauh tanpa persetujuan yang bersangkutan. Peringatan ini secara spesifik menyasar versi Claude Code 2.1.91 hingga 2.1.196, yang mencakup rilis antara 2 April hingga 29 Juni 2026.

Rentang Versi yang Sudah Kedaluwarsa

Menariknya, saat peringatan ini dikeluarkan, versi terbaru Claude Code sebenarnya sudah mencapai 2.1.204, tiga rilis lebih baru dari batas versi yang ditandai bermasalah oleh otoritas China. NVDB tetap menyarankan organisasi dan pengguna untuk segera meninjau ulang sistem yang terdampak, kemudian mencopot versi bermasalah atau memperbarui ke rilis teraman terbaru. Otoritas ini juga mengimbau agar organisasi memperketat kontrol akses jaringan eksternal untuk perangkat pengembangan, serta memperkuat pemantauan lalu lintas data pada jaringan bisnis inti mereka guna mencegah transfer data sensitif yang tidak sah.

Anthropic: Ini Fitur Anti-Penyalahgunaan, Bukan Backdoor

Menanggapi tudingan tersebut, Anthropic memberikan bantahan yang cukup tegas. Perusahaan menyebut mekanisme yang dituduh sebagai "backdoor" itu sebenarnya merupakan eksperimen anti-penyalahgunaan yang dijalankan sejak awal tahun ini, dimulai Maret 2026. Tujuannya adalah mencegah praktik distillation yang tidak sah, yaitu upaya mengekstrak kemampuan suatu model AI untuk melatih model pesaing tanpa izin.

Lihat Layanan Kami

Lebih jauh, Anthropic menegaskan bahwa kebijakan perusahaan memang melarang penggunaan produk mereka oleh entitas yang mayoritas kepemilikannya berasal dari organisasi berkantor pusat di China. Dengan kata lain, pengguna yang diperingatkan pemerintah China untuk mencopot aplikasi tersebut sejak awal memang tidak berwenang menggunakan Claude Code.

Bermula dari Utas Reddit dan Laporan Wall Street Journal

Isu ini pertama kali mencuat lewat laporan Wall Street Journal, yang dipicu oleh sebuah utas di Reddit sepekan sebelumnya. Utas tersebut menuduh Anthropic menyematkan fungsi khusus dalam Claude Code yang dirancang untuk menandai pengguna yang beroperasi dari jaringan internet China. Seorang karyawan Anthropic kemudian mengonfirmasi lewat platform X bahwa kode tersebut memang bagian dari eksperimen yang diluncurkan Maret 2026, sejalan dengan penjelasan resmi perusahaan.

Alibaba Sudah Lebih Dulu Melarang Penggunaannya

Perkembangan ini bukan kejutan pertama bagi ekosistem teknologi China. Alibaba sebelumnya sudah melarang karyawannya menggunakan Claude Code di tempat kerja, berlaku sejak 10 Juli 2026, dengan alasan risiko backdoor yang sama. Sebagai gantinya, karyawan Alibaba diarahkan untuk memakai platform coding buatan sendiri bernama Qoder.

Menurut South China Morning Post, perkembangan ini menjadi bagian dari eskalasi persaingan yang lebih luas antara Amerika Serikat dan China di ranah kecerdasan buatan. Para pakar keamanan memperkirakan perusahaan-perusahaan teknologi China ke depannya akan mulai memperlakukan vendor AI asing sebagai penyedia rantai pasok strategis, bukan sekadar vendor perangkat lunak biasa, mengingat kedekatan alat-alat coding berbasis AI dengan kode sumber, sistem internal, dan data perusahaan.

Bagi organisasi multinasional dengan tim pengembang di China maupun kawasan Asia Pasifik lainnya, insiden ini menjadi pengingat bahwa peninjauan alat AI coding tidak bisa lagi dilakukan semata-mata dari sudut pandang produktivitas. Tim keamanan perusahaan kini juga perlu mengevaluasi data apa saja yang dikumpulkan alat tersebut, ke mana data itu mengalir, dan apakah regulasi di masing-masing kawasan mengizinkan karyawan menggunakannya, mengingat kebijakan AI yang seragam secara global mungkin tidak lagi memadai untuk tim yang beroperasi di berbagai pasar dengan aturan berbeda.

Komentar (0)

Masuk untuk menulis komentar.

Belum ada komentar.

Kami memakai cookie untuk analisis kunjungan. Baca Kebijakan Privasi kami.