China Percepat Penghapusan Windows dari Lembaga Negara Jelang Pertemuan Trump-Xi
Rencananya masih delapan bulan lagi, tapi Beijing tiba-tiba memutuskan tidak mau menunggu. Instruksi mendadak itu datang hanya beberapa minggu sebelum pertemuan penting antara dua kepala negara yang selama ini bersitegang soal teknologi.
China mempercepat instruksi penghapusan sistem operasi Windows milik Microsoft dari komputer lembaga-lembaga pemerintah negara tersebut, menurut laporan Bloomberg yang dikutip Handelsblatt pada Selasa (18/8/2026). Sumber yang mengetahui langsung rencana ini menyebut jadwal penghentian yang semula ditetapkan Februari 2027 kini dimajukan beberapa bulan lebih awal—sinyal kian menguatnya ketidaknyamanan Beijing terhadap penggunaan software buatan Amerika Serikat.
Versi Windows Hasil Joint Venture Microsoft-CETC
Versi Windows 10 yang terdampak instruksi ini merupakan hasil pengembangan joint venture yang dibentuk pada 2016 antara Microsoft dan China Electronics Technology Group (CETC), perusahaan milik negara China. Perusahaan patungan tersebut menyesuaikan Windows 10 agar memenuhi persyaratan keamanan yang ditetapkan Beijing, dan dipasarkan secara khusus sebagai "Windows 10 China Government Edition"—produk yang dinegosiasikan langsung antara CEO Microsoft, Satya Nadella, dengan pejabat Kementerian Keuangan China.
Menurut sumber yang dikutip laporan tersebut, instruksi percepatan ini mengejutkan banyak pegawai lembaga pemerintah, terutama karena kebijakan tersebut dikeluarkan hanya beberapa minggu sebelum pertemuan yang direncanakan antara Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dan Presiden China, Xi Jinping. Sumber tersebut menyebut latar belakang kebijakan ini terkait kekhawatiran soal keamanan data, tanpa menyebutkan kerentanan spesifik apa pun yang memicu keputusan tersebut.
Bagian dari Tren Panjang: Microsoft Sudah Tutup 15 Kantor di China dalam 5 Tahun
Langkah ini menjadi babak terbaru dari hubungan yang semakin renggang antara Microsoft dan pasar China, sebuah negara yang dulu pernah menjadi pasar strategis penting bagi perusahaan tersebut. Menurut laporan mendalam yang dikutip Business Standard, setidaknya 15 kantor cabang dan joint venture Microsoft di China telah ditutup dalam lima tahun terakhir, dengan lima sumber internal perusahaan menyebut Microsoft tengah menjalankan strategi penarikan diri secara bertahap dari negara tersebut.
Perusahaan bahkan sempat mempertimbangkan keluar sepenuhnya dari pasar China pada 2023, dengan sejumlah eksekutif menilai risiko geopolitik yang ditanggung terlalu besar dibanding keuntungan ekonomi yang diperoleh—meski Microsoft menegaskan tidak ada rencana keluar dari pasar tersebut saat ini. China kini hanya menyumbang sekitar 1,5 persen dari total pendapatan global Microsoft, menurut data yang diungkap perusahaan pada 2024.
Kebijakan "Aman dan Andal" Sejak 2017 Jadi Awal Mula Ketegangan
Ketegangan ini sebenarnya sudah berakar sejak pertengahan 2010-an, ketika terungkapnya keterlibatan perusahaan teknologi Amerika Serikat dalam praktik pengawasan pemerintah AS terhadap negara-negara lain memicu kecurigaan mendalam China terhadap teknologi Barat. Pada 2017, pemerintah China memperkenalkan pedoman pengadaan yang menekankan pembelian layanan "aman dan andal" (safe and reliable)—kebijakan yang secara efektif tidak pernah menganggap sistem operasi asing manapun, termasuk Windows, sesuai dengan standar tersebut.
Meski tidak secara eksplisit melarang produk tersebut, ketidakpatuhan terhadap kebijakan itu membuat administrator teknologi lembaga pemerintah menghadapi pengawasan lebih ketat, termasuk kewajiban menjalankan pemeriksaan keamanan tambahan dan permintaan persetujuan khusus untuk terus menggunakan produk asing.
Boom AI Jadi Satu-satunya Celah yang Tersisa bagi Microsoft
Meski menghadapi tekanan besar di segmen pemerintahan, laporan Business Standard mencatat pertumbuhan pesat kecerdasan buatan justru menjadi celah yang membuat Microsoft masih mempertahankan kehadiran mereka di China—bukan lewat penjualan software konsumen atau kontrak pemerintah, melainkan lewat kemitraan riset dan layanan cloud terbatas yang masih diizinkan beroperasi di bawah kerangka regulasi yang ketat.
Langkah percepatan penghapusan Windows dari lembaga pemerintah China ini menegaskan pola yang lebih luas dari upaya "decoupling" teknologi antara dua kekuatan ekonomi terbesar dunia—sebuah proses yang menurut para pengamat kemungkinan besar akan terus berlanjut terlepas dari hasil pertemuan diplomatik tingkat tinggi antara kedua kepala negara dalam waktu dekat.
Komentar (0)
Masuk untuk menulis komentar.
Belum ada komentar.