CEO Micron: AI Telah "Sepenuhnya Mengubah" Siklus Boom-Bust Industri Memori Selamanya
Sanjay Mehrotra menyebut permintaan chip memori dari pelanggan pusat data kini melampaui 50 persen dari kapasitas yang bisa dipenuhi Micron, dengan komitmen kontrak jangka panjang yang mengubah cara industri ini beroperasi secara fundamental.
Chief Executive Officer Micron Technology, Sanjay Mehrotra, menyatakan pada Kamis (20/8/2026) bahwa kecerdasan buatan telah secara dramatis mengubah bisnis memori — sebuah industri yang selama puluhan tahun dikenal rentan terhadap siklus boom dan bust yang keras. "Hari ini tidak ada AI tanpa memori. Sistem AI membutuhkan lebih banyak memori. Mereka membutuhkan memori berperforma lebih tinggi. Mereka membutuhkan memori berdaya lebih rendah," kata Mehrotra kepada Jim Cramer dalam acara "Mad Money" di CNBC. "Jadi, nilai memori — persamaan itu telah sepenuhnya berubah."
Permintaan Melampaui Kapasitas hingga 50 Persen
Mehrotra mengungkapkan bahwa Micron saat ini masih belum mampu memproduksi cukup pasokan untuk memenuhi permintaan yang ada. "Semua pelanggan kami di seluruh pasar akhir kami akan membeli semua yang kami produksi," katanya, menambahkan bahwa pelanggan pusat data saat ini menginginkan pasokan sekitar 50 persen lebih banyak dari yang mampu dikomitmenkan Micron. Dalam laporan terpisah, CNBC turut mencatat bahwa permintaan memori pusat data yang didorong AI kini mendorong porsi pasar tersebut melampaui setengah dari total pasar yang dapat dijangkau (total addressable market) untuk pertama kalinya, dengan keterbatasan pasokan pada memori canggih maupun tradisional diperkirakan bertahan hingga 2026 dan seterusnya.
Kontrak Jangka Panjang Ubah Cara Micron Membaca Permintaan
Salah satu perubahan penting yang disorot Mehrotra adalah bagaimana Micron kini memperoleh visibilitas yang jauh lebih baik terhadap permintaan pelanggannya melalui perjanjian jangka panjang — pergeseran signifikan bagi bisnis yang secara historis sangat terpapar fluktuasi pasar spot. Dalam panggilan laporan keuangan terbarunya akhir Juni 2026, Micron mengumumkan telah menandatangani perjanjian strategis lima tahun dengan 16 pelanggan. Mehrotra mengatakan perusahaan telah menandatangani kesepakatan tambahan sejak saat itu.
"Mereka telah berkomitmen untuk mengambil pasokan," kata Mehrotra. "Jadi, ini memberi kami kepastian terhadap permintaan." Perjanjian strategis ini bersifat multi-tahun dan menggunakan skema take-or-pay, memastikan pesanan yang ditempatkan sekarang akan tetap terealisasi begitu chip siap diproduksi — terlepas dari profil permintaan pelanggan itu sendiri di masa depan. Struktur ini kemungkinan akan bersifat evergreen, dengan pelanggan dapat memperpanjang kesepakatan dengan menambahkan tahun-tahun baru di ujung kontrak.
Investasi Besar-besaran di Boise, Idaho
Komentar Mehrotra ini disampaikan tepat di bawah bayang-bayang fasilitas fabrikasi semikonduktor raksasa yang sedang dibangun di dekat markas Micron di Boise, Idaho — bagian dari rencana investasi perusahaan senilai $250 miliar di Amerika Serikat hingga 2035, dengan hingga $6,2 miliar di antaranya berasal dari dana era CHIPS Act pemerintahan Biden. Terpisah, Micron turut mengumumkan investasi senilai $10 miliar untuk mendirikan Micron Research Labs di Boise, yang berfokus pada teknologi memori generasi berikutnya, kemasan canggih (advanced packaging), dan manufaktur semikonduktor. Inisiatif ini mendapat dukungan dari CEO Nvidia Jensen Huang, CEO Apple Tim Cook, hingga sejumlah pejabat senior pemerintahan Trump.
Belanja modal Micron diproyeksikan mencapai sekitar $28 miliar pada tahun fiskal 2026 dan melonjak menjadi $47 miliar pada tahun berikutnya, menurut data FactSet.
Pelajaran dari Krisis Harga 2023
Mehrotra turut mengungkapkan bahwa tekanan harga agresif dari pelanggan selama bertahun-tahun sempat membuat industri memori kekurangan investasi, berkontribusi pada kelangkaan pasokan yang terjadi saat ini. Margin kotor Micron sempat anjlok ke minus 7,3 persen pada tahun fiskal 2023 yang berakhir Agustus tahun itu, menurut data FactSet — periode ketika, menurut Mehrotra, "perusahaan-perusahaan merugi. Mereka tidak mampu menanggungnya," yang pada gilirannya berdampak signifikan pada kemampuan investasi seluruh industri. Belanja modal Micron sempat turun menjadi $7,7 miliar pada tahun fiskal 2023, dari $12,1 miliar pada tahun sebelumnya.
Ekspektasi 2027 Lebih Ketat dari 2026
Manajemen Micron menyebut memori kini telah menjadi aset strategis bagi pelanggan, bukan sekadar komoditas input biasa — terutama dalam sistem AI pusat data. Perusahaan memperkirakan kondisi pasokan ketat ini akan bertahan hingga jauh melewati 2027, dengan alasan permintaan AI menciptakan siklus permintaan yang berbeda dari siklus semikonduktor sebelumnya. Mehrotra bahkan menyebut permintaan memori bersifat sekuler seiring adopsi AI di pusat data, pasar konsumen, otomasi industri, dan di masa depan, robotika — dengan proyeksi ratusan juta unit robot pada akhir dekade ini yang masing-masing akan membutuhkan memori dalam jumlah besar.
Risiko yang Tetap Membayangi
Meski optimisme ini didukung data konkret — termasuk margin operasional 81 persen pada kuartal terakhir dan saham Micron yang melonjak 3,97 persen ke $974,33, memperpanjang kenaikan year-to-date sebesar 241 persen — sejarah industri ini soal kelebihan produksi (overbuilding) selama periode permintaan tinggi tetap membayangi euforia saat ini. Setiap miliar dolar yang dikomitmenkan untuk proyek jangka panjang berarti pengurangan arus kas bebas jangka pendek yang sepadan. Taruhan besar Mehrotra, sebagaimana ia kerangkakan sendiri, adalah bahwa AI telah mengubah kalkulasi ini secara permanen — dan apakah tesis tersebut terbukti benar akan menentukan apakah pembangunan senilai $250 miliar di Amerika ini akan menjadi langkah jenius atau justru kisah peringatan baru dalam babak berikutnya dari siklus panjang industri memori.
Komentar (0)
Masuk untuk menulis komentar.
Belum ada komentar.