Bitcoin Tertahan di US$78.000 usai Gagal Bertahan di Level Psikologis US$80.000
Web:Wikipedia
Sempat menyentuh level tertinggi dalam beberapa pekan, Bitcoin kini kembali diuji tekanan jual — dengan nasib pergerakannya bulan ini ditentukan oleh satu hal: keputusan The Fed pertengahan bulan.
Bitcoin (BTC) tertahan di kisaran 78.000 dolar AS per keping pada akhir pekan ini, setelah gagal mempertahankan level psikologis 80.000 dolar AS yang sempat ditembusnya awal pekan. Sepanjang pekan ini, mata uang kripto dengan kapitalisasi pasar terbesar tersebut mengalami volatilitas signifikan, mencerminkan pasar yang terus mencermati sinyal kebijakan moneter Amerika Serikat.
Perjalanan Harga: Dari Reli 6,3 Persen hingga Terkoreksi
Bitcoin sempat mencatatkan reli signifikan 6,3 persen dan menembus level 80.000 dolar AS pada Kamis (4/9/2026), didorong komentar dovish Ketua Federal Reserve soal peluang pemangkasan suku bunga. Harga bahkan sempat menyentuh level tertinggi 81.812 dolar AS sebelum akhirnya kembali melemah. Sehari setelahnya, Bitcoin mengalami koreksi 1,46-1,52 persen dan kembali ke kisaran 79.500 dolar AS, sebelum akhirnya melemah lebih jauh ke level 78.000 dolar AS pada Sabtu.
CEO dan Founder platform investasi kripto FLOQ, Yudhono Rawis, menilai koreksi ini belum mengubah prospek Bitcoin secara keseluruhan. Menurutnya, pasar kini memasuki fase pembuktian untuk melihat apakah permintaan investor masih cukup kuat menopang harga di level saat ini.
ETF Bitcoin Catatkan Arus Keluar setelah 9 Hari Berturut-turut Positif
Salah satu sinyal yang perlu dicermati investor adalah pergerakan dana ETF Bitcoin spot di Amerika Serikat. Setelah mencatatkan arus masuk (inflow) selama sembilan hari berturut-turut yang mengumpulkan sekitar 3 miliar dolar AS, ETF Bitcoin spot mencatatkan arus keluar bersih sebesar 201,8 juta dolar AS dalam satu hari — mengakhiri tren positif yang sempat mendorong penguatan harga sebelumnya.
Semua Mata Tertuju pada Pertemuan FOMC 15-16 September
Pergerakan Bitcoin selanjutnya akan sangat dipengaruhi arus dana ETF serta arah kebijakan Bank Sentral AS (The Fed). Data ketenagakerjaan AS untuk Agustus yang dijadwalkan rilis awal September, serta data Consumer Price Index (CPI) yang akan menyusul, menjadi pertimbangan penting menjelang pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) pada 15-16 September 2026.
Ekspektasi pasar soal peluang pemangkasan suku bunga sempat berfluktuasi tajam dalam sepekan, dari 37 persen hingga 70 persen, sebelum akhirnya stabil di kisaran 50 persen. Yudhono memperkirakan volatilitas Bitcoin masih akan tinggi sepanjang September, mengingat pasar akan semakin bergantung pada rilis data ekonomi menjelang keputusan The Fed.
Bernstein: Bitcoin Berpotensi Kembali ke US$125.000
Di tengah koreksi jangka pendek ini, firma riset Wall Street Bernstein justru mengeluarkan proyeksi bullish untuk Bitcoin, memperkirakan BTC berpotensi kembali ke level 125.000 dolar AS. Bernstein menilai penurunan saat ini bersifat sementara, dengan peningkatan utang global dan meningkatnya adopsi institusional sebagai katalis utama pendorong kenaikan jangka menengah.
Sinyal dukungan institusional juga terlihat dari langkah Strategy, perusahaan yang dipimpin Michael Saylor, yang kembali melanjutkan pembelian Bitcoin setelah jeda dua bulan, mengalokasikan sekitar 370 juta dolar AS — indikasi bahwa pemain institusional besar masih memandang level harga saat ini sebagai peluang akumulasi, bukan sinyal untuk keluar dari pasar.
Masih Jauh dari Rekor Tertinggi Sepanjang Masa
Meski sempat menembus 80.000 dolar AS pekan ini, Bitcoin masih diperdagangkan jauh di bawah rekor tertinggi sepanjang masa (all-time high) yang dicapai pada akhir 2025 di sekitar 126.000 dolar AS. Level 82.000 dolar AS telah berulang kali ditolak sebagai level resistance dalam beberapa pekan terakhir, menandakan pasar masih dalam fase konsolidasi sebelum menentukan arah tren berikutnya.
Dengan ketidakpastian kebijakan suku bunga yang masih membayangi dan data ekonomi penting yang akan dirilis dalam beberapa pekan ke depan, para analis menyarankan investor tetap waspada terhadap volatilitas jangka pendek, sembari mencermati apakah proyeksi bullish jangka menengah dari lembaga seperti Bernstein benar-benar akan terwujud.
Komentar (0)
Masuk untuk menulis komentar.
Belum ada komentar.