Baru Sehari Rilis, Google Tarik Fitur AI Google Earth Usai Bisa Bikin Citra Satelit Palsu
Sebuah fitur yang tadinya ditujukan untuk membantu visualisasi sejarah dan perencanaan properti, ternyata dalam hitungan jam sudah dipakai membuat gambar fasilitas nuklir palsu, ledakan kota yang tak pernah terjadi, hingga kawah bom rekaan.
Google resmi menarik kembali fitur AI generatif gambar terbarunya di Google Earth, hanya sehari setelah fitur tersebut diluncurkan. Pengumuman penarikan ini disampaikan pada Jumat, 31 Juli 2026, setelah fitur bernama "create image" yang dirilis Kamis sebelumnya memicu kekhawatiran serius dari kalangan peneliti disinformasi dan pakar intelijen sumber terbuka.
Fitur yang Sempat Digadang Bermanfaat
Fitur tersebut mengintegrasikan teknologi AI generatif gambar milik Google, Nano Banana 2, langsung ke dalam Google Earth. Dengan fitur ini, pengguna bisa memperbesar tampilan ke lokasi tertentu, lalu membuat gambar hanya dalam hitungan detik berdasarkan prompt teks, memanfaatkan data satelit, foto udara, dan pemetaan tiga dimensi yang sudah dimiliki Google. Perusahaan sebelumnya menggambarkan fitur ini sebagai cara untuk memvisualisasikan sejarah, membuat rencana real estate, dan berbagai kegunaan lainnya.
Peringatan Datang Cepat dari Peneliti Disinformasi
Kekhawatiran terhadap fitur ini muncul hampir seketika. Henk van Ess, peneliti intelijen asal Belanda, menunjukkan pada hari peluncurannya sendiri bagaimana fitur tersebut bisa dimanfaatkan untuk membuat gambar fasilitas nuklir palsu di Iran yang tampak sangat meyakinkan.
Pengujian yang dilakukan kantor berita AFP pada Jumat semakin memperkuat kekhawatiran ini. Mereka berhasil membuat berbagai citra satelit palsu yang berpotensi menimbulkan konsekuensi global serius, termasuk gambar ledakan di Paris, fasilitas nuklir di Iran, kawah bom di Rusia, banjir besar di Bangladesh, hingga gudang mencurigakan berisi kendaraan van di negara bagian Georgia, Amerika Serikat.
Ancaman terhadap Kredibilitas Sumber Verifikasi Utama
Peneliti disinformasi menekankan bahaya khusus dari fitur ini, mengingat Google Earth selama ini menjadi salah satu sumber kunci bagi jurnalis, peneliti, dan lembaga fact-checking untuk melakukan verifikasi berbagai peristiwa di seluruh dunia.
Jake Godin, peneliti senior di kelompok investigatif Bellingcat, menjelaskan bahwa citra satelit palsu sebenarnya sudah pernah muncul sebelumnya, termasuk kerusakan palsu yang pernah beredar terkait pangkalan Amerika Serikat di Bahrain selama konflik Amerika Serikat-Israel dengan Iran. Namun ia menegaskan, kehadiran generator satu klik semacam ini membuat pembuatan pemalsuan menjadi terlalu mudah untuk diproduksi secara massal.
Bill Greer, analis geospasial sekaligus co-founder organisasi nonprofit Common Space, menyebut erosi kepercayaan terhadap citra satelit sebagai sesuatu yang berpotensi sangat merugikan. Sementara itu, Brady Africk, analis riset di American Enterprise Institute yang berfokus pada analisis citra satelit, menjelaskan kepada AFP bahwa pembaruan Google Earth ini akan membuat lebih mudah menghasilkan citra satelit palsu yang meyakinkan, yang bisa menyebar cepat secara online dan menyesatkan publik. Menurutnya, pemalsuan semacam ini mengikis kepercayaan publik terhadap citra satelit dan mempersulit pekerjaan jurnalis serta peneliti.
Watermark Digital Dianggap Belum Cukup
Di tengah gelombang kritik yang terus bertambah, Google sempat mencoba mempertahankan fitur ini dengan menjelaskan bahwa setiap gambar yang dihasilkan menyertakan watermark digital bernama SynthID, penanda tak kasat mata yang tertanam dalam media hasil AI dan bisa diverifikasi keasliannya. Namun langkah ini rupanya belum cukup meredakan kekhawatiran, hingga akhirnya Google memutuskan menarik fitur tersebut sepenuhnya.
Pernyataan Resmi Google
Juru bicara Google menjelaskan keputusan penarikan ini dalam pernyataan resmi. "Kami melihat profesional geospasial menggunakan fitur ini untuk berbagai tujuan bermanfaat, namun kami juga melihat orang-orang membagikan tangkapan layar gambar yang dihasilkan yang tampak melanggar kebijakan kami," ujar juru bicara tersebut. "Jadi kami menarik kembali fitur ini di Google Earth sementara kami mengerjakan implementasi guardrail yang lebih kuat."
Google turut menegaskan pentingnya kepercayaan publik terhadap platform mereka. "Kami tahu bahwa orang-orang secara unik mempercayai Google Earth untuk pandangan dunia yang dapat diandalkan," tambah pernyataan tersebut. Perusahaan juga menegaskan bahwa tidak ada satu pun gambar hasil AI yang pernah muncul di platform utama Google Earth, karena fitur eksperimental ini terpisah dari layanan inti mereka. Tombol "create image" kini sudah tidak lagi muncul di aplikasi Google Earth setelah penghentian sementara ini diberlakukan.
Bukan Insiden Pertama Citra Satelit Palsu Berdampak Nyata
Kekhawatiran soal citra satelit palsu bukan hal baru dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2023, sebuah gambar hasil AI yang menampilkan ledakan di Pentagon sempat mengguncang pasar saham dalam waktu singkat sebelum terbukti palsu. Pada awal perang Amerika Serikat dengan Iran, sebuah gambar satelit hasil manipulasi AI yang menampilkan pangkalan militer Amerika Serikat hancur bahkan sempat meraih jutaan tayangan di berbagai platform media sosial, menunjukkan betapa cepatnya konten semacam ini bisa menyebar dan memengaruhi persepsi publik sebelum sempat diklarifikasi.
Terjadi di Tengah Sorotan Belanja AI Alphabet
Insiden penarikan fitur ini turut terjadi di tengah tekanan investor terhadap induk perusahaan Google, Alphabet, menyusul rencana belanja infrastruktur AI senilai 205 miliar dolar AS yang sebelumnya memicu kekhawatiran pasar soal besarnya biaya ekspansi AI perusahaan. Insiden Google Earth ini menggambarkan risiko nyata yang dihadapi perusahaan teknologi ketika merilis alat AI generatif yang semakin realistis, di mana manfaat inovasi harus terus diimbangi dengan pertimbangan matang soal potensi penyalahgunaan yang bisa muncul jauh lebih cepat dari yang diperkirakan.
Komentar (0)
Masuk untuk menulis komentar.
Belum ada komentar.