Studio Ghibli Tak Terburu-buru Bikin Film Baru, Meski Pimpin Boom Anime $25 Miliar
Studio yang karya-karyanya membantu memicu ledakan industri anime senilai puluhan miliar dolar di seluruh dunia, justru memilih jalan yang berlawanan dengan logika bisnis pada umumnya—alih-alih mengejar produksi sebanyak mungkin selagi permintaan sedang tinggi-tingginya, mereka lebih memilih menunggu.
Studio Ghibli, rumah produksi animasi Jepang legendaris di balik film-film seperti Spirited Away dan My Neighbor Totoro, tidak terburu-buru memproduksi film baru meski karya-karya mereka turut memicu boom industri anime global yang kini bernilai lebih dari 25 miliar dolar per tahun, menurut laporan mendalam Bloomberg Businessweek yang dipublikasikan Jumat (14/8/2026). Laporan tersebut ditulis Sohee Kim dan Felix Gillette, menyoroti masa depan yang masih penuh tanda tanya bagi salah satu kelompok animator paling dihormati di dunia.
Warisan yang Sudah Terbangun: Lebih dari 20 Film, Dua Piala Oscar
Sepanjang empat dekade terakhir, Studio Ghibli telah membangun gaya animasi khas berlapis dan digambar tangan lewat lebih dari 20 film panjang. Film-film mereka, yang menarik penonton anak-anak maupun dewasa, kerap menampilkan protagonis muda yang menyelamatkan lingkungan dilanda perang dari kekuatan jahat di tengah fenomena penuh fantasi. Secara kolektif, film-film tersebut telah menghasilkan lebih dari 2 miliar dolar AS dari penjualan tiket, memenangkan dua Piala Oscar, sekaligus turut memicu ledakan global industri anime—pasar yang kini bernilai lebih dari 25 miliar dolar AS per tahun menurut Association of Japanese Animations.
Hayao Miyazaki, sang sutradara legendaris berusia 85 tahun, dan putranya Goro Miyazaki, kini 59 tahun, menjadi sorotan utama dalam laporan tersebut. Meski sang ayah sempat berulang kali mengumumkan rencana pensiun selama bertahun-tahun, dinamika kreatif di dalam studio selama ini banyak berputar di sekitar visi sang maestro senior.
Bukan Sekadar Regenerasi Biasa, tapi Pertanyaan Eksistensial
Pertanyaan soal suksesi kepemimpinan sebenarnya sudah lama membayangi Studio Ghibli. Pada 2023, Nippon Television Network Corporation resmi mengakuisisi 42,3 persen saham Studio Ghibli, menjadikan broadcaster besar Jepang tersebut sebagai pemegang saham mayoritas—langkah yang diambil di tengah kekhawatiran mendalam soal masa depan studio setelah Miyazaki dan produser lama mereka, Toshio Suzuki, akhirnya pensiun sepenuhnya. Goro Miyazaki sendiri sebelumnya secara terbuka menolak dianggap sebagai penerus tunggal ayahnya, dengan alasan akan terlalu berat memikul tanggung jawab tersebut seorang diri.
Meski demikian, laporan terbaru Bloomberg menunjukkan Goro tetap aktif berkarya di dalam studio, termasuk menggarap film pendek animasi yang baru-baru ini ia perlihatkan kepada ayahnya untuk mendapat masukan langsung—sebuah tradisi yang menurut laporan tersebut kerap diwarnai perdebatan sengit antara keduanya selama bertahun-tahun kolaborasi mereka.
Bayang-bayang AI yang Terus Membesar di Industri Animasi
Di luar dinamika internal suksesi, industri animasi secara keseluruhan tengah menghadapi tekanan besar dari perkembangan pesat teknologi kecerdasan buatan generatif. Tren visual bergaya Ghibli yang dihasilkan tools AI sempat viral secara global sejak awal 2025, memicu perdebatan panas soal hak cipta dan nilai orisinalitas karya seni yang dibuat manusia. Goro Miyazaki sendiri pernah menyebut kemungkinan suatu hari nanti sebuah film sepenuhnya dibuat lewat AI generatif tidak akan mengejutkan, meski ia menegaskan keahlian dan pengalaman hidup generasi ayahnya—termasuk pengalaman langsung dengan perang—menghasilkan kedalaman emosional yang menurutnya mustahil direplikasi teknologi semata.
Ketegangan antara warisan kerajinan tangan yang menjadi identitas inti Studio Ghibli, dengan tekanan industri yang semakin bergantung pada otomatisasi dan efisiensi produksi berbasis AI, menjadi salah satu benang merah utama yang disoroti laporan Bloomberg Businessweek ini—menegaskan bahwa masa depan Ghibli bukan sekadar soal siapa yang akan meneruskan tongkat estafet kreatif, melainkan juga soal bagaimana mempertahankan esensi kerajinan tangan mereka di tengah gelombang perubahan teknologi yang mengubah cara industri animasi bekerja secara global.
Filosofi yang Tidak Berubah: Kualitas di Atas Kecepatan Produksi
Terlepas dari tekanan komersial yang datang dari status mereka sebagai salah satu pemicu utama boom anime global, Studio Ghibli tampak tetap berpegang pada filosofi yang sudah lama mereka anut—memprioritaskan kualitas dan proses kreatif yang matang, ketimbang terburu-buru memproduksi konten demi memenuhi permintaan pasar yang sedang tinggi. Pendekatan ini menjadikan setiap film baru dari studio tersebut sebagai peristiwa langka yang dinanti-nantikan, alih-alih rilisan rutin yang bisa diprediksi jadwalnya—sebuah strategi yang jarang ditemukan di tengah industri hiburan modern yang umumnya berlomba mempercepat siklus produksi mereka.
Komentar (0)
Masuk untuk menulis komentar.
Belum ada komentar.