IHSG Dibuka Menguat ke 6.699, Coba Tembus Level Psikologis 6.700 di Tengah Lonjakan Harga Minyak
Web:Stockbit
Indeks membuka perdagangan dengan penguatan tipis usai sempat gagal menembus level psikologis 6.700 sehari sebelumnya, dengan pasar tetap waspada terhadap lonjakan harga minyak dunia yang dipicu meningkatnya ketegangan geopolitik AS-Iran.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka menguat 21,07 poin atau 0,32 persen ke posisi 6.699,27 pada perdagangan Kamis (10/9/2026) pukul 09.01 WIB. Volume transaksi pada awal sesi tercatat 987,31 juta saham, dengan rata-rata volume harian berada di angka 17,44 miliar saham. Penguatan pagi ini menjadi upaya pemulihan setelah IHSG sempat menembus level 6.700 pada perdagangan Rabu (9/9/2026), namun akhirnya ditutup melemah tipis 0,12 persen ke level 6.678,20 akibat aksi ambil untung (profit taking).
Sempat Tertolak di Level Psikologis 6.700
Pergerakan IHSG pada Rabu lalu menunjukkan pola penolakan (rejection) yang cukup jelas saat indeks mencoba menembus level psikologis 6.700. Koreksi tersebut terjadi tak lama setelah IHSG mencatatkan penguatan solid 1,01 persen atau 66,77 poin ke posisi 6.686,44 pada hari sebelumnya (Selasa, 8/9/2026) — menunjukkan bahwa meski momentum jangka pendek masih positif, level 6.700 tetap menjadi resistance psikologis yang cukup kuat untuk ditembus dalam sekali percobaan.
Harga Minyak Brent Tembus $100, Dipicu Ketegangan AS-Iran
Sentimen utama yang membayangi pasar hari ini adalah lonjakan harga minyak mentah dunia akibat meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran. Harga minyak Brent tercatat ditutup di sekitar $101,21 per barel, sementara minyak WTI berada di kisaran $96,05 per barel — kenaikan yang menimbulkan kekhawatiran terhadap potensi gangguan pasokan energi dari kawasan Timur Tengah sekaligus meningkatkan tekanan inflasi global.
Wall Street Ikut Melemah, Yield Obligasi AS Naik
Tekanan dari sentimen eksternal turut tercermin dari pelemahan bursa saham Amerika Serikat pada perdagangan Rabu. Dow Jones Industrial Average turun 0,77 persen, S&P 500 terkoreksi 0,48 persen, sementara Nasdaq Composite melemah 0,64 persen. Kenaikan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun ke sekitar 4,84 persen turut menjadi sentimen negatif tambahan, mengingat yield yang lebih tinggi dapat meningkatkan daya tarik aset berdenominasi dolar AS dibanding aset berisiko di pasar berkembang, termasuk Indonesia.
Proyeksi Analis: Konsolidasi dengan Rentang 6.600-6.730
Sejumlah lembaga sekuritas memproyeksikan IHSG akan bergerak sideways hingga konsolidasi pada perdagangan hari ini. Tim Analis Phintraco Sekuritas memperkirakan IHSG bergerak dalam kisaran 6.600-6.700, dengan pergerakan naik turun yang diperkirakan tidak terlalu tajam. Proyeksi serupa juga disampaikan Indo Premier Sekuritas dengan rentang yang sama.
Sementara itu, sejumlah analis lain memberikan proyeksi rentang yang sedikit lebih lebar, di kisaran 6.600 hingga 6.730, dengan bias mixed cenderung melemah terbatas (neutral to slightly bearish). MNC Sekuritas menilai posisi IHSG saat ini berada di akhir wave v dari wave (c), dengan level support di 6.643-6.653 apabila terjadi koreksi lanjutan.
Level 6.600 Jadi Support Krusial
Sejumlah analis kompak menyoroti level 6.600 sebagai support utama yang krusial untuk dipertahankan guna menjaga momentum kenaikan jangka pendek. Selama level tersebut mampu bertahan, peluang IHSG untuk kembali menguji resistance 6.700-6.730 dinilai masih terbuka lebar, dengan potensi technical rebound yang lebih solid jika sentimen mendukung.
Sentimen Domestik: Kepercayaan Konsumen Naik, tapi Ritel Diproyeksi Kontraksi
Di tengah tekanan sentimen eksternal, sejumlah data domestik justru menunjukkan sinyal positif. Indeks kepercayaan konsumen Indonesia tercatat meningkat ke level 118,5 pada Agustus 2026, sementara penguatan harga komoditas seperti batubara dan tembaga turut menjadi katalis pendukung bagi emiten-emiten berbasis sektor tersebut. Nilai tukar rupiah sendiri relatif stabil di kisaran Rp17.585 per dolar AS.
Meski begitu, investor juga tetap mencermati proyeksi data penjualan ritel Indonesia periode Juli yang diperkirakan mengalami kontraksi sebesar 3,3 persen secara tahunan (year-on-year) — indikasi bahwa di balik optimisme kepercayaan konsumen, tantangan di sisi konsumsi riil tampaknya masih perlu terus dipantau.
Investor Nantikan Data Inflasi AS
Selain sentimen geopolitik dan domestik, pelaku pasar turut menanti rilis data Producer Price Index (PPI) dan Consumer Price Index (CPI) dari Amerika Serikat dalam waktu dekat. Kedua data inflasi ini akan menjadi acuan penting bagi pasar dalam memprediksi arah kebijakan suku bunga The Federal Reserve ke depan — faktor yang berpotensi memengaruhi arah pergerakan pasar keuangan global, termasuk IHSG, dalam beberapa hari mendatang.
Rekomendasi Saham: TOWR, PTBA, dan ANTM Jadi Sorotan
BRI Danareksa Sekuritas merekomendasikan sejumlah saham untuk dicermati pada perdagangan hari ini, termasuk TOWR, PTBA, dan ANTM — kombinasi yang mencerminkan preferensi terhadap sektor infrastruktur telekomunikasi serta komoditas tambang batubara dan emas di tengah kondisi pasar yang masih dibayangi ketidakpastian sentimen global.
Fokus Hari Ini: Menembus atau Kembali Tertahan di 6.700
Dengan IHSG kembali mendekati level psikologis 6.700 pada pembukaan pagi ini, perhatian pelaku pasar akan tertuju pada apakah indeks kali ini berhasil menembus dan bertahan solid di atas level tersebut, atau justru kembali mengalami penolakan seperti yang terjadi sehari sebelumnya — dengan lonjakan harga minyak dan ketegangan geopolitik Timur Tengah tetap menjadi variabel eksternal utama yang perlu terus dicermati sepanjang sesi perdagangan hari ini.
Komentar (0)
Masuk untuk menulis komentar.
Belum ada komentar.