CompileDaily
Nutrisi

Air Sumur Tercemar E. coli Diduga Picu Keracunan MBG 212 Orang di SMKN 1 Gunungguruh Sukabumi

Admin CompileDaily ·
Bagikan WhatsApp X Facebook Threads

Makanan yang menjadi bukti sudah hilang sebelum sempat diperiksa. Yang tersisa untuk menjelaskan keracunan ini adalah air sumur dan peralatan makan dapur, dan keduanya positif bakteri E. coli.

Dinas Kesehatan Kabupaten Sukabumi menyatakan air sumur dan usap peralatan makan di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Gunungguruh Cikujang 1 positif Escherichia coli (E. coli) dalam uji Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda). Hasil itu terkait dugaan keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menimpa 212 siswa dan guru SMKN 1 Gunungguruh, Kecamatan Gunungguruh, Jumat (2/10/2026). Temuan ini dipaparkan Kepala Dinkes Masykur Alawi dan dimuat Radar Sukabumi pada Senin (19/10/2026).

Dilaporkan Lima Hari Kemudian, Sampel Makanan Tak Bisa Diuji

Kasus baru sampai ke Dinkes pada Rabu (7/10/2026), lima hari setelah menu dibagikan. Bank sampel makanan hanya disimpan 2 x 24 jam, sehingga makanan tidak lagi tersedia untuk diperiksa. Sampel air dan usap peralatan makan baru diambil pada 9 Oktober 2026 dan diuji di Labkesda Kabupaten Sukabumi.

Jumlah korban membengkak sepanjang penyelidikan. Laporan detikJabar pada 8 Oktober 2026 mencatat 151 orang, terdiri atas 125 siswa dan 26 guru. Angka final 212 orang berarti bertambah 61 korban. Menurut hasil investigasi Dinkes, gejala yang paling banyak dilaporkan adalah sakit perut (96,23 persen), diare (86,79 persen), dan perut melilit (75 persen). Lima orang menjalani perawatan lanjutan di rumah sakit, dan seluruh korban dilaporkan sudah pulih.

Kadar E. coli Jauh di Atas Baku Mutu Permenkes

Air sumur dan peralatan makan itu mengandung E. coli pada kadar yang jauh melampaui baku mutu Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 2 Tahun 2023, yang menetapkan nilai ambang ideal nol. Menurut Dinkes, air sumur tersebut dipakai pengelola untuk mencuci peralatan dapur dan wadah makan, dan inilah pemicu utama kontaminasi silang.

Menu hari itu mencakup dimsum mentai, potato wedges, tumis kol, susu UHT rasa vanila, dan lengkeng, tulis Radar Sukabumi. Laporan awal detikJabar menyebut dimsum ayam jamur, jadi penamaan menu berbeda antarmedia. Dinkes mengutip keterangan korban bahwa dimsum dan kentang terasa asam, berbau, dan berlendir. Namun karena makanan tak bisa diuji, laporan Lingkar Pena menegaskan hubungan menu tertentu dengan kejadian ini belum dipastikan.

Dari 50 Penjamah Makanan, Hanya 20 Bersertifikat

Lihat Layanan Kami

Investigasi menemukan hanya 20 dari 50 penjamah makanan yang memiliki sertifikat Pelatihan Keamanan Pangan, atau 40 persen. Standar minimal yang disebut Lingkar Pena adalah 50 persen. Pemanas air untuk mencuci peralatan makan rusak, alat sterilisasi tidak tersedia, dan suhu ruangan tidak dipantau. Pengelola, yakni SPPG di bawah Yayasan Inti Mandiri Nusantara, juga tidak melaporkan evaluasi berkala tiga bulanan.

"Fokus kami adalah penyelamatan nyawa," ujar Masykur, seperti dikutip Lingkar Pena. Ia menyebut keterlambatan lapor lima hari membuat sampel makanan hilang sebelum bisa diperiksa.

Rekomendasi Dinkes: Setop Air Sumur, Pakai Galon Teruji

Dinkes merekomendasikan pengelola berhenti memakai air sumur untuk sanitasi dan beralih ke air galon yang teruji laboratorium, memperbaiki pemanas air dan alat ukur suhu, serta mengoperasikan sterilisasi wadah makan. Seluruh pekerja dapur diminta ikut pelatihan keamanan pangan, dan laporan berkala dikirim tiap tiga bulan ke Puskesmas dan Dinkes.

Satgas MBG di tingkat Puskesmas diminta aktif kembali untuk inspeksi bulanan. Sekolah diimbau melarang siswa membawa pulang menu MBG.

Kasus Serupa Masih Bermunculan

Sukabumi bukan satu-satunya daerah yang bermasalah. Di Sulawesi Tenggara, 144 siswa Konawe Selatan diduga keracunan MBG dan dapur SPPG Puao disetop sementara. Soal jeda masak dan distribusi, BPOM menegaskan batas aman menu MBG 4 jam.

Laporan yang tersedia belum menjelaskan apakah hasil laboratorium ini akan berujung sanksi bagi pengelola dapur, dan apakah SPPG Cikujang 1 boleh beroperasi kembali setelah perbaikan.

Artikel ini bersifat informasi umum dan bukan pengganti diagnosis atau saran medis. Jika mengalami diare, nyeri perut, atau muntah setelah makan, konsultasikan dengan tenaga medis atau fasilitas kesehatan terdekat.

Komentar (0)

Masuk untuk menulis komentar.

Belum ada komentar.

Kami memakai cookie untuk analisis kunjungan. Baca Kebijakan Privasi kami.