WHO: Beban Gangguan Kecemasan Naik Hampir 45% sejak 2019, Usia Harapan Hidup Sehat Belum Pulih
Dunia sudah hampir menutup "utang" usia harapan hidup akibat pandemi. Masalahnya, tahun-tahun yang kembali itu tidak dijalani dengan kondisi yang sama sehatnya, dan gangguan kecemasan menjadi salah satu penyebab terbesarnya.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merilis Global Health Estimates terbaru pada Jumat (2/10/2026) yang menunjukkan beban gangguan kecemasan secara global naik hampir 45 persen antara 2019 dan 2023, diukur dari tingkat DALY yang distandardisasi usia. Pada periode yang sama, beban gangguan depresi naik sekitar 20 persen. Gabungan keduanya menyebabkan hilangnya sekitar 110 juta tahun hidup sehat pada 2023.
Apa Itu DALY dan Kenapa Penting
DALY (disability-adjusted life years) mengukur total tahun hidup sehat yang hilang, baik karena kematian dini maupun karena hidup dengan penyakit atau disabilitas. Karena dihitung dengan standardisasi usia, kenaikan ini tidak bisa dijelaskan semata oleh bertambahnya jumlah atau penuaan penduduk.
WHO tidak menjelaskan penyebab kenaikan tersebut dalam rilisnya. Namun rentang waktunya, 2019 hingga 2023, mencakup seluruh periode pandemi COVID-19 dan masa pemulihannya.
Usia Harapan Hidup Pulih, Tahun Sehat Tertinggal
Secara umum, usia harapan hidup global sudah hampir kembali ke level sebelum pandemi, yakni 73,3 tahun pada 2023 dibanding 73,4 tahun pada 2019. Usia harapan hidup sehat (healthy life expectancy) tertinggal: 62,8 tahun pada 2023, masih 0,4 tahun di bawah angka 2019 sebesar 63,2 tahun.
Direktur Departemen Data, Kesehatan Digital, Analitik, dan AI WHO, Dr. Alain Labrique, menyebut hidup lebih lama sebagai salah satu pencapaian besar kesehatan masyarakat. "The next challenge is to ensure that those additional years are lived in good health," ujarnya. Tantangan berikutnya, kata Labrique, adalah memastikan tahun-tahun tambahan itu dijalani dalam kondisi sehat.
Demensia Melompat ke Peringkat Kelima
Laporan yang sama memotret pergeseran besar penyebab kematian. Penyakit tidak menular kini menyumbang 74 persen kematian global pada 2023, naik dari 58 persen pada 2000. Delapan dari sepuluh penyebab kematian teratas dunia adalah penyakit tidak menular.
Penyakit jantung iskemik tetap menjadi pembunuh utama dengan sekitar 9,5 juta kematian dan 210 juta DALY pada 2023. Demensia naik dari peringkat ke-19 pada 2000 menjadi penyebab kematian kelima, dengan jumlah kematian meningkat tiga kali lipat.
Untuk pertama kalinya pula, penyakit menular menyumbang kurang dari separuh kematian di negara berpenghasilan rendah.
Sinyal untuk Kawasan Asia Tenggara
WHO mencatat risiko kematian akibat diabetes di kawasan Asia Tenggara naik cukup besar sejak 2000, disertai peningkatan risiko penyakit kardiovaskular. Kawasan Pasifik Barat juga mencatat kenaikan risiko kardiovaskular yang persisten, meski kematian akibat gangguan penggunaan narkoba turun tajam antara 2000 dan 2023.
Bagi Indonesia, yang berada di kawasan Asia Tenggara versi WHO, angka-angka ini menjadi pengingat bahwa beban kesehatan jiwa menyentuh populasi umum. Kecemasan dan depresi yang tidak terdeteksi sejak dini di layanan primer seperti puskesmas cenderung baru tertangani ketika sudah berat.
Pertanyaan yang belum dijawab laporan ini adalah apakah lonjakan 2019–2023 merupakan efek sementara pandemi yang akan mereda, atau pergeseran permanen. Estimasi WHO berikutnya, yang mencakup data setelah 2023, akan menjadi petunjuk pertama.
Artikel ini bersifat informasi dan bukan pengganti diagnosis atau saran medis. Jika Anda mengalami gejala kecemasan atau depresi, konsultasikan dengan tenaga kesehatan profesional.
Komentar (0)
Masuk untuk menulis komentar.
Belum ada komentar.