UMKM Binaan Astra Catat Potensi Transaksi Rp104,9 Miliar di TEI 2026, Ekspor ke Enam Negara
Teri nasi dari Jepara, kakao dari Sikka, dan pinang dari Jambi sama-sama punya satu tujuan di Trade Expo Indonesia: dibawa pulang oleh pembeli luar negeri. Totalnya di atas kertas melampaui Rp100 miliar, walau belum semuanya menjadi uang.
UMKM dan Desa Sejahtera Astra binaan PT Astra International Tbk (Astra) mencatat potensi transaksi Rp104,9 miliar di Trade Expo Indonesia (TEI) 2026, menurut laporan Kompas.com pada Senin (19/10/2026). Pameran dagang itu berlangsung 14–18 Oktober 2026 di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD, Tangerang, Banten. Hasilnya berupa 12 nota kesepahaman (MoU) dan 19 surat minat (letter of intent, LoI).
Hampir Seluruhnya Berasal dari Ekspor
Dari Rp104,9 miliar itu, Rp103,14 miliar adalah potensi ekspor dan Rp1,76 miliar kemitraan ritel. Dengan hitungan redaksi, ekspor menyumbang sekitar 98,3 persen dari total. Boy Gemino Kalauserang, Executive in Charge di Astra, menyebut capaian ini sebagai buah kolaborasi banyak pihak untuk membawa produk UMKM ke pasar global.
Program yang menaungi para peserta, Desa Sejahtera Astra Export Champion, dijalankan bersama Kementerian Perdagangan dan Kadin Indonesia. Astra menyebut Desa Sejahtera Astra menjangkau lebih dari 1.500 desa di 35 provinsi.
Enam Negara Pembeli, Enam Komoditas Berbeda
Kesepakatan ekspor tersebar ke enam negara. Australia membeli kakao dari Desa Sejahtera Astra Sikka, Nusa Tenggara Timur. Jepang mengambil teri nasi dari Desa Sejahtera Astra Jepara, sedangkan India memesan pinang dari Desa Sejahtera Astra Jambi. Inggris tertarik pada biji kopi hijau dari Desa Sejahtera Astra Cikoneng.
Dua negara lain datang lewat produk olahan dan rempah. Korea Selatan menyepakati ekstrak bunga telang dari UMKM Optima Global Harmoni, mitra Yayasan Astra dan Yayasan Dharma Bhakti Astra, sementara Pakistan menyasar rempah dan bumbu dari Desa Sejahtera Astra Banyuwangi.
Dua Kesepakatan Ritel Dalam Negeri
Di pasar domestik, ada gula aren kemasan kubus mini dari Desa Sejahtera Astra Temon Agro Lestari dan minuman rempah dari UMKM Sekar Jawi. Nilainya jauh lebih kecil dibanding ekspor, tetapi menunjukkan produk yang sama bisa dijual di dua jalur sekaligus.
Angka Rp400 Miliar yang Sering Tertukar
Dua angka berbeda beredar soal Astra di TEI. Dua hari sebelum pameran berakhir, RCTI+ menulis Astra mencatat nilai kontrak dan transaksi Rp400 miliar. Angka itu adalah akumulasi sejak para pelaku usaha binaan mulai ikut TEI, melibatkan lebih dari 50 pelaku usaha dalam empat tahun berturut-turut sejak 2022, bukan hasil pameran tahun ini saja. Rp104,9 miliar adalah potensi dari TEI 2026 saja.
Sebanyak 30 peserta tampil di stan Astra, terdiri dari 20 Desa Sejahtera Astra dan 10 UMKM. Tujuh Desa Sejahtera Astra lain berada di stan Desa BISA Ekspor milik Kementerian Perdagangan. Ada pula 25 produk UMKM tambahan yang dipamerkan di stan Astra.
Potensi Bukan Berarti Pendapatan
MoU dan LoI umumnya baru tahap awal sebelum kontrak dan pengiriman. Laporan Kompas tidak merinci berapa bagian dari Rp104,9 miliar yang sudah berupa pesanan berbayar. Pembaca yang membandingkan dengan target nasional TEI bisa melihat konteksnya di artikel kami tentang pembukaan TEI, yang membidik transaksi $17,5 miliar.
Soal kesiapan digital UMKM, redaksi juga sudah menulis: Wamen UMKM menyoroti paradoks digital, saat hanya 15 persen UMKM aktif memakai AI.
Yang patut ditunggu adalah apakah kesepakatan di ICE BSD itu berlanjut menjadi pengiriman pertama. Belum ada jadwal pengapalan, volume, maupun nilai kontrak final yang diumumkan Astra.
Komentar (0)
Masuk untuk menulis komentar.
Belum ada komentar.