IHSG Sepekan Naik Tipis 0,94% ke 6.093, Sempat Jebol 6.000 usai Risalah FOMC Hawkish
IHSG menghabiskan lima hari untuk naik ke dekat 6.200, jatuh lagi ke bawah 6.000, lalu memantul di jam-jam terakhir pekan. Hasil akhirnya tipis, tapi cukup untuk menghapus rapor merah pekan lalu yang anjlok lebih dari 3 persen.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup di level 6.093,76 pada Jumat (9/10/2026), naik 62,48 poin atau 1,04 persen dalam sehari. Dibanding penutupan Jumat (2/10/2026) di 6.036,88, IHSG menguat 56,88 poin atau 0,94 persen sepekan. Pekan sebelumnya, indeks masih terpangkas 3,28 persen.
Dua Hari Reli, Dua Hari Koreksi, Satu Pantulan
Pekan dibuka kuat. Senin (5/10) IHSG melonjak 1,36 persen ke 6.118,86 dengan 547 saham menguat, sejalan dengan data tenaga kerja AS yang meredakan ekspektasi kenaikan bunga The Fed. Selasa (6/10) indeks naik lagi 1,21 persen ke 6.192,93 dan sempat menyentuh 6.216,44, level tertinggi pekan ini.
Arah berbalik di tengah pekan. Rabu (7/10) IHSG turun 0,75 persen ke 6.146,72, meski FTSE Russell baru saja mempertahankan status Indonesia sebagai Secondary Emerging Market. Kamis (8/10) koreksi membesar jadi 1,88 persen ke 6.031,28, dengan 518 saham melemah. Jumat pagi indeks sempat jatuh ke 5.995,82, titik terendah pekan, sebelum ditutup dekat level tertinggi harian 6.100,58.
Risalah FOMC Jadi Pukulan Terkeras Pekan Ini
Anjloknya Kamis dipicu risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) September yang membuka peluang kenaikan suku bunga sebelum tutup tahun. Tim riset BRI Danareksa Sekuritas mencatat "16 pejabat memperkirakan setidaknya satu kali kenaikan suku bunga masih akan terjadi pada tahun ini", seperti dikutip laporan penutupan Bisnis.com. Rapat FOMC berikutnya dijadwalkan 28 Oktober dan 9 Desember 2026.
Sejumlah saham berkapitalisasi besar berguguran. Petrindo Jaya Kreasi (CUAN) turun 8,93 persen, Amman Mineral (AMMN) 6,40 persen, dan Elang Mahkota Teknologi (EMTK) 4,52 persen pada hari itu. Pada pekan yang sama, kekhawatiran eskalasi AS–Iran sempat mendorong harga minyak Brent naik lebih dari 4 persen ke atas US$104 per barel.
Asing Lepas Rp2,37 Triliun dalam Tiga Hari
Penguatan Senin–Selasa tidak dibarengi masuknya dana asing. Investor asing membukukan net sell Rp629,87 miliar di seluruh pasar pada Selasa, menurut data KabarBursa, lalu sekitar Rp871 miliar pada Rabu dan Rp867,27 miliar pada Kamis. Jika dijumlah, arus keluar tiga hari itu mencapai sekitar Rp2,37 triliun.
Hitungan Periskop.id menunjukkan asing sudah net sell 15 hari bursa beruntun dengan total Rp57,35 triliun, dan Rp85,03 triliun sejak awal tahun. Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji, menilai saham BBRI yang paling banyak dilepas karena "relatif mudah menjadi instrumen bagi investor institusi asing untuk mengurangi eksposur", bukan karena masalah fundamental khusus. Pada sesi I Jumat, net sell asing menyusut ke Rp32,05 miliar.
Telkom dan BRI Pimpin Pantulan Akhir Pekan
Rebound Jumat ditopang saham-saham besar. CNBC Indonesia mencatat BBRI, AMMN, TLKM, BBCA, dan BMRI sebagai penopang utama, dengan sektor industri memimpin kenaikan 2,1 persen. TLKM naik 2,65 persen ke Rp2.320, BBRI 2,31 persen ke Rp3.100, dan AMMN 4,01 persen ke Rp4.410.
Sentimen datang dari dua arah. Presiden AS Donald Trump menyatakan tidak akan menyerang Iran sebelum pemilu sela 3 November 2026. Dari dalam negeri, Indeks Keyakinan Konsumen September berada di 118,1, turun tipis dari 118,5 tetapi masih di zona optimis, sementara Indeks Penjualan Riil Agustus tumbuh 1,3 persen secara tahunan. Rupiah ikut menguat 16 poin ke Rp17.899 per dolar AS. Kapitalisasi pasar BEI ditutup Rp10.724,46 triliun, sekitar Rp97 triliun di atas posisi Rp10.627 triliun akhir pekan lalu.
Analis Pasang Kisaran 5.850–6.500 untuk Oktober
Proyeksi analis cenderung hati-hati. Head of Research KISI Sekuritas, Muhammad Wafi, memperkirakan IHSG berakhir Oktober di 6.100–6.200 dengan rentang 5.850–6.300, dan menyebut "peluang Oktober ditutup positif sedikit di atas 55%". Risikonya adalah rupiah menembus Rp18.000 atau kabar negatif menjelang review MSCI November, seperti dirangkum Bisnis.com.
Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, memasang kisaran lebih lebar di 5.900–6.500 dan menilai arus dana asing belum tentu kembali net buy secara berkelanjutan. Financial Educator Manager Sucor Sekuritas, Hendry Wijaya, melihat IHSG berkonsolidasi di 6.000–6.200, dengan asing cenderung wait and see sampai ada kejelasan soal MSCI.
Inflasi AS Jadi Penentu Pekan Depan
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, mencatat tidak ada rilis data ekonomi domestik terjadwal pekan depan, sehingga pasar akan berfokus pada data inflasi konsumen (CPI) dan produsen (PPI) AS, ditambah gerak harga minyak dan imbal hasil global; ia memperkirakan rupiah bergerak di Rp17.850–17.950. Level 6.000 sudah sempat jebol pada Jumat pagi sebelum indeks pulih. Ujian berikutnya datang dari angka inflasi AS: apakah data itu menguatkan pesan risalah FOMC, dan apakah asing akhirnya berhenti menjual.
Ikuti juga pergerakan harian pekan ini: IHSG dibuka naik di tengah risalah FOMC hawkish dan IHSG sempat menguji level 6.000 pada Jumat pagi.
Artikel ini bersifat informasi dan bukan rekomendasi untuk membeli atau menjual saham tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pembaca.
Komentar (0)
Masuk untuk menulis komentar.
Belum ada komentar.