IHSG Sepekan Anjlok 14,91% ke 5.185, Trading Halt dan Ancaman Status MSCI Guncang Bursa
Empat hari pertama pekan ini hanya menyumbang seperempat dari total kerugian IHSG. Sisanya datang dalam satu hari Jumat, ketika sikap MSCI yang semula diperkirakan baru muncul sebulan lagi tiba lebih awal.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup di level 5.185,11 pada Jumat (16/10/2026), anjlok 678,67 poin atau 11,57 persen dalam sehari. Dibanding penutupan Jumat (9/10/2026) di 6.093,76, indeks kehilangan 908,65 poin atau 14,91 persen sepekan, hitungan sendiri dari data penutupan kedua pekan. Perdagangan sempat dihentikan 30 menit di pembukaan setelah indeks jatuh 8,01 persen ke 5.393,92.
Empat Hari Koreksi Pelan, Satu Hari Longsor
Senin (12/10/2026) IHSG turun 2,59 persen ke 5.936,14, level terendah dalam sekitar tiga bulan menurut CNBC Indonesia. Selasa (13/10/2026) indeks susut 10,17 poin atau 0,17 persen ke kisaran 5.925, lalu Rabu (14/10/2026) naik 0,29 persen ke 5.943,02. Kamis (15/10/2026) koreksi 1,33 persen ke 5.863,78 dengan 567 saham melemah dan hanya 108 menguat.
Total Senin–Kamis, indeks turun 229,98 poin atau 3,77 persen. Pelemahan itu sudah dibahas dalam laporan harian CompileDaily soal bayang-bayang MSCI, dan laporan pembukaan Kamis soal inflasi AS dan dolar perkasa, tetapi tak ada sesi yang mendekati kejatuhan Jumat. Sepanjang hari itu indeks bergerak antara 5.404,51 sebagai level tertinggi dan 5.185,11 sebagai level terendah, yang sekaligus menjadi harga penutupan.
MSCI Buka Konsultasi Standalone Market
Pemicunya pengumuman MSCI pada Kamis (15/10/2026) yang membuka konsultasi penurunan klasifikasi pasar saham Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market. Menurut CNBC Indonesia, MSCI menyoroti transparansi struktur kepemilikan saham, dugaan perdagangan terkoordinasi, dan belum terlihatnya penegakan aturan yang berarti.
Rencana ini belum final. Tanggapan pelaku pasar diterima sampai 30 April 2027, dan keputusan akhir paling lambat 30 Juni 2027. Selama konsultasi, MSCI membekukan kenaikan Foreign Inclusion Factor (FIF) dan jumlah saham serta menahan penambahan saham baru ke indeksnya.
Bank Besar Dilepas, 812 Saham Berguguran
Tekanan menyebar. Menurut IDN Times, hanya 11 saham menguat, 812 melemah, dan 140 stagnan, sementara LQ45 terpangkas 13,82 persen. Nilai transaksi tercatat Rp26,38 triliun menurut CNBC Indonesia dan Rp31,74 triliun menurut IDN Times.
Investor asing mencatat net sell (jual bersih) Rp2,92 triliun hanya pada sesi I, dengan pembelian Rp5,21 triliun dan penjualan Rp8,13 triliun, menurut data Stockbit Sekuritas yang dikutip Katadata. Saham Bank Central Asia (BBCA) paling banyak dilepas Rp1,98 triliun, disusul Bank Rakyat Indonesia (BBRI) Rp630,97 miliar dan Bank Mandiri (BMRI) Rp485,08 miliar. GOTO justru jadi saham yang paling banyak dibeli asing, Rp97,72 miliar.
Angka net sell asing sepanjang hari dan data mingguan Bursa Efek Indonesia (BEI), termasuk kapitalisasi pasar, belum tersedia saat artikel ini ditulis.
Rupiah Tembus Rp18.000, Dana Asing Berpotensi Keluar US$3 Miliar
Rupiah ditutup di Rp18.027 per dolar AS pada Jumat, melemah 89 poin atau 0,50 persen dari Rp17.938, menurut data Bloomberg yang dikutip IDN Times. Pekan lalu rupiah berada di Rp17.899, sehingga melemah sekitar 0,72 persen sepekan menurut hitungan sendiri.
Equity Research Analyst Mirae Asset Sekuritas, Wilbert Arifin, memperkirakan dana asing yang keluar bisa mencapai US$3 miliar atau sekitar Rp54,14 triliun pada kurs Rp18.045, seperti dikutip Katadata. Direktur Pengembangan BEI, Iding Pardi, mengatakan sebagian investor global menilai bukti efektivitas dan penegakan reformasi belum cukup. BEI akan meminta klarifikasi kepada MSCI.
Pemerintah dan Regulator Turun Tangan
Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad mendatangi gedung BEI dan meminta bursa terus memperbaiki pasar dengan mempertimbangkan masukan lembaga pemeringkat internasional, menurut Suara.com. Rapat koordinasi itu dihadiri Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK Hasan Fawzi, dan CEO Danantara Rosan Roeslani. Menko Perekonomian Airlangga Hartarto, dikutip Antara, meminta BEI menunjukkan hasil konkret reformasi.
Support Terlewati, Agenda Pekan Depan Padat
Analis BinaArtha Sekuritas, Ivan Rosanova, menyebut support 5.768, 5.607, dan 5.521 pada Jumat pagi. Ketiganya kini berada di atas harga penutupan. Analis MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, menilai penurunan bisa mereda dan menyarankan investor menunggu, dengan risiko koreksi lanjutan masih terbuka.
Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi memperkirakan rupiah Senin (19/10/2026) bergerak melemah di Rp18.020–Rp18.070, dengan rentang pekan depan Rp17.850–Rp18.200. Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia dijadwalkan Selasa–Rabu (20–21/10/2026), disusul rapat FOMC pada 28 Oktober.
Yang ditunggu sekarang adalah apakah BEI dan OJK bisa menunjukkan hasil konkret sebelum 30 April 2027, dan apakah investor asing menunggu itu sebelum kembali masuk.
Artikel ini bersifat informasi dan bukan rekomendasi untuk membeli atau menjual saham tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pembaca.
Komentar (0)
Masuk untuk menulis komentar.
Belum ada komentar.