IHSG Dibuka Melemah 0,36% ke 5.914 lalu Jebol 5.900, Bayang-Bayang MSCI Belum Pergi
Investor asing tercatat masih memborong saham senilai ratusan miliar rupiah saat IHSG ambruk 2,59 persen kemarin—tetapi pasar memilih membaca sinyal lain: pengumuman MSCI yang tinggal empat pekan lagi.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka melemah 21,17 poin atau 0,36 persen ke level 5.914,98 pada Selasa (13/10/2026). Tekanan berlanjut cepat: data perdagangan pagi yang dihimpun Liputan6 menunjukkan indeks berada di 5.876 sekitar pukul 09.20 WIB, terkoreksi kurang lebih 1 persen dari penutupan Senin di 5.936,15.
Seluruh Sektor Merah, 371 Saham Turun
Hingga pukul 09.20 WIB, 371 saham melemah, 187 menguat, dan 164 stagnan. Nilai transaksi mencapai Rp1,3 triliun dari 3,7 miliar saham yang berpindah tangan dalam 182.774 kali transaksi. Indeks LQ45 ikut turun 0,69 persen.
Tidak ada satu pun sektor yang bertahan hijau. Sektor barang konsumsi siklikal memimpin koreksi dengan penurunan 1,74 persen, disusul bahan baku 1,51 persen dan industri 1,30 persen. Di jajaran saham besar, Astra International (ASII) turun 2,08 persen ke Rp4.710 dan Perusahaan Gas Negara (PGAS) melemah 2,46 persen ke Rp1.385.
Sejumlah saham lapis kedua justru melanjutkan reli. Menurut catatan InvestorTrust, ZONE dibuka melonjak 19,14 persen ke Rp965, BIKE naik 16,10 persen ke Rp3.130, dan TFCO menguat 15,18 persen ke Rp1.500. Ketiganya sudah menyentuh batas auto reject atas pada perdagangan kemarin.
Senin Kelabu: Rp13,7 Triliun Berputar, 602 Saham Rontok
Koreksi hari ini adalah lanjutan dari kejatuhan Senin (12/10/2026). IHSG sempat naik ke 6.128,72 pada pagi hari sebelum berbalik dan ditutup anjlok 157,61 poin ke 5.936,15, kembali di bawah level psikologis 6.000. Sektor energi terpukul paling dalam dengan penurunan 5,88 persen, sementara DSSA ambles 14,60 persen, BREN 11,48 persen, dan TPIA 10,15 persen. Saham BBCA turun 1,65 persen ke Rp5.950, level terendahnya dalam tiga bulan.
Arus dana asing bergerak berlawanan arah. Rekap CNBC Indonesia mencatat net buy asing Rp81,10 miliar di pasar reguler dan Rp47,18 miliar di pasar negosiasi dan tunai, atau Rp128,28 miliar secara keseluruhan. GOTO menjadi incaran utama dengan net buy Rp134,34 miliar, sedangkan Bank Mandiri (BMRI) dan BBCA paling banyak dilepas, masing-masing Rp78,66 miliar dan Rp55,95 miliar.
MSCI Tak Bisa Mendenda, tapi Bisa Mengubah Bobot
Kekhawatiran utama pasar bersumber dari evaluasi indeks MSCI yang dijadwalkan diumumkan 11 November 2026. Investor menimbang kemungkinan MSCI melanjutkan pembekuan Foreign Inclusion Factor (FIF) dan Number of Shares (NOS) untuk saham Indonesia, bahkan perubahan klasifikasi pasar.
Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, menepis kabar yang beredar soal denda. Dalam paparan yang dikutip Bisnis.com, ia menjelaskan MSCI adalah penyedia indeks, bukan regulator, sehingga kewenangannya terbatas pada bobot, perlakuan saham, dan klasifikasi pasar. Liza juga menilai terlalu jauh jika seluruh penurunan dibebankan pada isu MSCI. "Kepercayaan tidak hanya pulih dengan janji, perlu bukti perbaikan yang jalan," ujarnya.
Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, M. Nafan Aji Gusta, memandang serupa. Menurutnya, "isu MSCI bukan satu-satunya penyebab koreksi."
Minyak di Atas $100 dan Rupiah Dekati 17.930
Tekanan eksternal datang bersamaan. Harga minyak Brent bertahan di atas $100 per barel di tengah eskalasi konflik Arab Saudi dengan kelompok Houthi di Yaman. Bursa Asia dibuka kompak melemah, dengan Nikkei 225 turun 1,74 persen dan Kospi anjlok 4,10 persen. Rupiah pagi ini melemah ke kisaran 17.930 per dolar AS.
Pasar juga menanti rilis inflasi Amerika Serikat periode September pada Rabu (14/10/2026). Konsensus yang dihimpun Periskop memperkirakan inflasi tahunan naik ke 3,6 persen dari 3,4 persen pada Agustus. Angka di atas ekspektasi berisiko memperkuat dolar dan memperbesar arus keluar dana asing.
Support 5.850 Jadi Benteng Berikutnya
Liza memproyeksikan IHSG berpotensi turun menuju support 5.850, dengan lapisan berikutnya di 5.715. "Jebolnya level 6.000 bisa menambah tekanan psikologis," katanya. Pilarmas Investindo Sekuritas memasang support lebih rendah di 5.840 dengan resistance 6.000, sementara Reliance Sekuritas menyoroti pola black spinning top dan stochastic death cross yang memperbesar peluang pelemahan lanjutan.
Jika tetap merah hingga penutupan, IHSG mencatat koreksi tiga hari beruntun. Posisi pagi ini juga sudah jauh di bawah level 6.093 yang dicapai pada akhir pekan lalu, dan kontras dengan pembukaan hijau di 6.109 pada Senin. Pertanyaannya kini apakah support 5.850 cukup kuat menahan tekanan sampai data inflasi AS keluar besok, atau pasar harus menunggu kepastian MSCI pada November untuk menemukan pijakan.
Disclaimer: Artikel ini bersifat informasi dan bukan rekomendasi untuk membeli atau menjual saham tertentu. Keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan pembaca.
Komentar (0)
Masuk untuk menulis komentar.
Belum ada komentar.