CompileDaily
IHSG

IHSG Dibuka Naik 0,26% ke 6.109 lalu Tergelincir, Saham Tambang Menahan saat Brent di Atas $104

Admin CompileDaily ·
Bagikan WhatsApp X Facebook Threads

Akhir pekan lalu ditutup dengan lompatan lebih dari 1 persen, tetapi semangat itu hanya bertahan beberapa menit pada Senin pagi. Penahan IHSG kini justru datang dari saham tambang, sementara harga minyak dan perang di Timur Tengah kembali menekan pasar.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka menguat 15,56 poin atau 0,26 persen ke level 6.109,32 pada Senin (12/10/2026), menurut ANTARA. Indeks LQ45 ikut naik 0,26 persen ke 603,25. Penguatan itu tidak bertahan lama. Data RTI yang dikutip Liputan6 mencatat indeks sudah berbalik ke 6.086,68 pada pukul 09.07 WIB, sekitar 7 poin di bawah penutupan Jumat.

Dari 6.125 ke Zona Merah dalam Hitungan Menit

Pada pukul 09.00 WIB, IHSG sempat menyentuh 6.125,98 atau naik 0,53 persen dengan nilai transaksi Rp172,45 miliar. Tekanan jual kemudian membalik arah indeks. Data Stockbit pukul 09.07 WIB menunjukkan nilai transaksi sudah mencapai Rp772,64 miliar dengan volume 5,02 miliar saham, sementara 301 saham naik, 268 turun, dan 394 stagnan.

Mayoritas sektor masih hijau. Bahan baku memimpin dengan kenaikan 0,87 persen, disusul properti 0,50 persen. Hanya sektor teknologi dan infrastruktur yang berada di zona merah.

ANTM dan AMMN Menahan, Saham Telekomunikasi Tertekan

Di jajaran LQ45, saham tambang memimpin kenaikan pada menit-menit awal. Data Bursa Efek Indonesia (BEI) yang dihimpun Bisnis.com mencatat ANTM naik 1,26 persen ke Rp3.220, AMMN 1,13 persen ke Rp4.460, dan BUMI 1,11 persen ke Rp182. MEDC, ASII, dan MDKA juga menguat sekitar 1 persen.

Pelemahan terdalam dialami WIFI yang turun 1,07 persen ke Rp1.390, EXCL turun 0,85 persen ke Rp2.320, dan PGAS turun 0,70 persen ke Rp1.410. Posisi ini sejalan dengan tekanan di sektor teknologi dan infrastruktur.

Jumat Naik 1,04 Persen, Asing Akhirnya Beli Bersih

Pada Jumat (9/10/2026), IHSG ditutup naik 62,44 poin atau 1,04 persen ke 6.093,75 dengan nilai transaksi sekitar Rp9,95 triliun. Investor asing mencatat beli bersih Rp29,63 miliar di seluruh pasar hari itu. Sepanjang pekan, asing tetap membukukan jual bersih Rp2,44 triliun, lebih kecil dari Rp5,03 triliun pada pekan sebelumnya. Rangkuman pekan lalu bisa dibaca di IHSG Sepekan Naik Tipis 0,94% ke 6.093.

Lihat Layanan Kami

Pola dibuka hijau lalu berbalik merah juga terjadi pada Jumat pagi, ketika IHSG sempat menguji level 6.000 sebelum ditutup menguat.

Brent di Atas $104, Pasar Menanti Pidato Warsh

Dari luar negeri, harga minyak Brent bertahan di atas $104 per barel di tengah konflik Timur Tengah. Presiden Amerika Serikat Donald Trump disebut mempertimbangkan bergabung dengan Arab Saudi melawan Houthi setelah serangan di bandara Riyadh. Imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun pekan lalu juga menyentuh level tertinggi sejak 2002.

Investor menunggu pidato Ketua The Fed Kevin Warsh dalam pertemuan IMF di Bangkok, lalu data inflasi AS dan China pada Rabu. Bursa Asia dibuka beragam: Kospi turun 1,34 persen, ASX 200 naik 0,61 persen, sementara bursa Jepang libur. Menurut CNBC Indonesia, sentimen domestik relatif sepi menjelang dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran. Rupiah menguat ke kisaran Rp17.860 per dolar AS pagi ini.

Analis Pasang Batas di 5.973 dan 6.231

Analis Teknikal MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, menilai skenario terbaik IHSG masih berada di wave iv dari wave c, dengan peluang menguji area gap—celah harga yang belum tertutup—di 6.227–6.231. Ia mencatat support di 6.018 dan 5.973 serta resistance di 6.297 dan 6.376. Jika 5.973 jebol, koreksi bisa berlanjut ke 5.850–5.911.

Pandangan lebih hati-hati datang dari Analis Binaartha Sekuritas, Ivan Rosanova. "Penembusan di bawah 6.019 membuka peluang IHSG melemah setidaknya ke 5.942 atau menguji support Fibonacci di 5.850," kata Ivan seperti dikutip Periskop. Ia memasang resistance di 6.261, 6.423, dan 6.552.

Riset BRI Danareksa Sekuritas menyebut 5.996–6.000 sebagai support krusial dan 6.100 sebagai resistance terdekat. Level 6.100 itulah yang baru saja ditembus lalu dilepas lagi pagi ini. Pertanyaannya, apakah indeks mampu merebutnya kembali sebelum penutupan sesi I, atau justru kembali menguji area 6.000 menjelang rilis inflasi AS pada Rabu.

Artikel ini bersifat informasi dan bukan rekomendasi untuk membeli atau menjual saham tertentu. Keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan pembaca.

Komentar (0)

Masuk untuk menulis komentar.

Belum ada komentar.

Kami memakai cookie untuk analisis kunjungan. Baca Kebijakan Privasi kami.