IHSG Dibuka Melemah 0,44% ke 5.917, Inflasi AS 3,7% dan Dolar Perkasa Tekan Indeks
Angka inflasi Amerika Serikat yang meleset 0,1 poin dari perkiraan ternyata cukup untuk mengubah rebound tipis kemarin menjadi koreksi pagi ini, dan level 6.000 yang hanya berjarak sekitar 1,4 persen kini terasa makin jauh.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka melemah 25,89 poin atau 0,44 persen ke level 5.917,13 pada awal sesi I perdagangan Kamis (15/10/2026) pukul 09.00 WIB, menurut laporan CNBC Indonesia. Pada penutupan Rabu (14/10/2026), indeks berhenti di 5.943,02 setelah naik 0,29 persen atau 17,04 poin dalam rebound tipis. Indeks LQ45 ikut turun 0,50 persen ke 591,62 saat pembukaan, menurut ANTARA.
Tekanan Menebal Hanya Beberapa Menit setelah Bel
Pelemahan tidak berhenti di pembukaan. Pukul 09.03 WIB, IHSG tercatat di 5.898,74 atau turun 0,75 persen, lalu bergerak ke 5.906,20 (-0,64 persen) lima menit kemudian, berdasarkan pantauan Liputan6. CNBC Indonesia mencatat titik terendah awal sesi di 5.892,98.
Sebaran saham condong ke zona merah. Menurut data Bisnis.com pada posisi 5.900,15, hanya 103 saham menguat, sementara 400 saham melemah dan 460 stagnan. Seluruh sektor memerah; teknologi turun 1,77 persen, transportasi 1,60 persen, industri 1,23 persen, dan properti 1,09 persen.
GOTO Anjlok 7,14 Persen, BMRI dan UNTR Menahan
Di papan atas pelemahan, saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) terkoreksi 7,14 persen. Saham WIFI turun 3,65 persen ke Rp1.320 dan ISAT turun 2,83 persen ke Rp2.060. Saham MEDC turun 2,27 persen ke Rp1.510, sedangkan MAPI melemah 2,24 persen ke Rp1.530.
Hanya segelintir saham besar yang bertahan di zona hijau: BMRI naik 0,76 persen ke Rp3.990, UNTR naik 0,40 persen ke Rp25.100, dan PGAS naik 0,36 persen ke Rp1.395.
Inflasi AS 3,7 Persen Dorong Dolar ke Level Tertinggi sejak April 2025
Pemicu utamanya datang dari seberang Pasifik. Inflasi konsumen (CPI) AS periode September 2026 naik 3,7 persen secara tahunan, di atas konsensus 3,6 persen, dengan inflasi inti di 2,6 persen. Indeks dolar AS ikut menanjak ke 102,555, tertinggi sejak April 2025, menurut CNBC Indonesia.
Dolar yang kuat biasanya memicu arus keluar modal dari pasar negara berkembang. Rupiah dibuka di Rp17.900 per dolar AS dari Rp17.895 pada penutupan sebelumnya, berdasarkan data yang dikutip Kumparan. Di kawasan, bursa Asia bergerak campuran: Nikkei 225 naik 0,29 persen, Shanghai Composite naik 0,62 persen, Hang Seng turun 0,13 persen, dan Straits Times turun 0,36 persen.
Tensi Timur Tengah menambah beban. Kelompok Houthi mengancam serangan lanjutan ke bandara dan fasilitas minyak Arab Saudi sehari setelah dilaporkan ada serangan ke kompleks Saudi Aramco di Dhahran.
Asing Jual Sekitar Rp1,1 Triliun saat Rebound Kemarin
Rebound Rabu justru ditemani aksi jual investor asing. Nilai net sell tercatat sekitar Rp1,1 triliun menurut riset CNBC Indonesia; Momsmoney/Kontan mengutip data Bloomberg sebesar Rp1,33 triliun. Kedua sumber tidak menjelaskan penyebab selisih angka tersebut. Sehari sebelumnya, asing sempat mencatat net buy di semua pasar, tetapi di pasar reguler hanya Rp5,9 miliar.
Sejak akhir September, indeks sudah melorot dari 6.071,14, sempat jebol 5.900 pada Selasa lalu. Dibanding level pembukaan hari ini, selisihnya 153,01 poin atau 2,52 persen. Isu pembekuan perubahan bobot indeks MSCI masih membayangi; Mirae Asset memperkirakan pembekuan berlanjut hingga November, sebagaimana dikutip CNBC Indonesia.
Batas Bawah 5.850, Batas Atas 6.000
Technical Analyst BRI Danareksa Sekuritas, Reza Diofanda, menilai pergerakan IHSG masih bearish dan rentan tertekan selama belum kembali di atas 6.000. Ia menempatkan support di 5.900–5.850 dan resistance di level psikologis 6.000.
Analis MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, memberi peta yang lebih lebar: support 5.887 dan 5.744, resistance 6.216 dan 6.296. Pilarmas Investindo Sekuritas memperkirakan indeks bergerak di rentang 5.840–6.000 hari ini.
Perhatian pasar kini tertuju pada rilis data harga produsen (PPI) AS dan dialog Ketua The Fed Kevin Warsh dengan Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva di Bangkok pukul 10.30 WIB. Pertanyaannya, apakah 5.850 mampu bertahan sampai penutupan sore nanti atau justru jadi level berikutnya yang ditembus.
Artikel ini bersifat informasi dan bukan rekomendasi beli atau jual. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca; lakukan riset sendiri dan pertimbangkan profil risiko Anda.
Komentar (0)
Masuk untuk menulis komentar.
Belum ada komentar.