CompileDaily
IHSG

IHSG Dibuka Naik 0,25% ke 5.940, Rebound Tipis Jelang Rilis CPI AS dan Ujian Level 6.000

Admin CompileDaily ·
Bagikan WhatsApp X Facebook Threads

Satu angka inflasi dari Washington bisa menentukan apakah rebound pagi ini punya tenaga atau sekadar jeda sebelum IHSG kembali menguji 5.800.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka menguat 14,70 poin atau 0,25 persen ke 5.940,68 pada Rabu (14/10/2026) pukul 09.02 WIB, menurut data pembukaan yang dikutip ANTARA. Indeks LQ45 ikut naik 1,91 poin atau 0,32 persen ke 591,10. Penguatan ini datang sehari setelah IHSG ditutup turun 0,17 persen ke 5.925,98 pada Selasa (13/10/2026).

Menguat 14,70 Poin, Masih 59 Poin dari 6.000

Kemarin IHSG sempat menyentuh titik terendah 5.833 sebelum memangkas sebagian besar pelemahannya, setelah dibuka melemah ke 5.914. Pagi ini indeks berbalik arah, tetapi level psikologis 6.000, yang sempat jebol pekan lalu, masih berjarak 59,32 poin dari posisi 5.940,68.

Angka pembukaan berbeda tipis antarmedia karena perbedaan waktu pencatatan. Bisnis.com mencatat IHSG di 5.945,59 atau naik 0,33 persen pada pukul 09.19 WIB, dengan 307 saham naik, 152 turun, dan 504 stagnan.

GOTO Memimpin, KLBF dan AMRT Tertahan

Di jajaran saham unggulan, GoTo Gojek Tokopedia (GOTO) naik 3,70 persen ke Rp28. Medco Energi Internasional (MEDC) menguat 1,38 persen ke Rp1.470, disusul Adaro Andalan Indonesia (ADMR) 1,37 persen ke Rp1.475, Merdeka Battery Materials (MBMA) 1,32 persen ke Rp462, dan Japfa Comfeed Indonesia (JPFA) 1,26 persen ke Rp2.010.

Tekanan datang dari Kalbe Farma (KLBF) yang turun 1,28 persen ke Rp770, Alfamart (AMRT) turun 1,20 persen ke Rp1.235, dan Mitra Adiperkasa (MAPI) turun 1,04 persen ke Rp1.425. Di luar kelompok unggulan, ARTA, BIKE, dan GRPH tercatat sebagai tiga saham dengan kenaikan terbesar pada pembukaan.

Asing Net Buy Tipis, tapi Saham Bank Besar Masih Dijual

Arus dana asing kemarin berubah arah dalam sehari. Pada sesi I Selasa, investor asing masih mencatat net sell Rp62,53 miliar di seluruh pasar, dengan Bank Mandiri (BMRI) Rp91,03 miliar, Telkom Indonesia (TLKM) Rp51,56 miliar, dan Bank Rakyat Indonesia (BBRI) Rp49,95 miliar sebagai saham yang paling banyak dilepas.

Lihat Layanan Kami

Hingga penutupan, data yang dirangkum Suara.com dari BNI Sekuritas menunjukkan asing justru membukukan net buy Rp5,89 miliar di pasar reguler. Itu hari kedua berturut-turut asing menjadi pembeli bersih, tetapi jauh lebih kecil dari Rp142,75 miliar sehari sebelumnya. Sepanjang hari, BMRI (Rp120,10 miliar), TLKM (Rp74,80 miliar), dan BBRI (Rp65,30 miliar) tetap menjadi sasaran jual, sementara ASII (Rp44,78 miliar), TINS (Rp35,38 miliar), dan BRMS (Rp34,48 miliar) paling banyak dibeli. Data arus asing untuk pembukaan hari ini belum tersedia.

Data CPI AS dan Rapat The Fed 27–28 Oktober

Pasar menunggu rilis inflasi konsumen (CPI) Amerika Serikat untuk September. Bisnis.com menyebut konsensus inflasi tahunan 3,6 persen, naik dari 3,4 persen pada Agustus, sedangkan Periskop mengutip proyeksi Phintraco Sekuritas sebesar 3,7 persen secara tahunan dan 0,6 persen secara bulanan. Angka yang lebih panas dari perkiraan dapat memperbesar peluang kenaikan suku bunga dalam rapat Federal Reserve (The Fed) pada 27–28 Oktober, menguatkan dolar AS, dan menekan rupiah serta arus dana asing.

Dari dalam negeri, sentimen Morgan Stanley Capital International (MSCI) masih membayangi, seperti yang diulas dalam laporan pembukaan Selasa. Ketegangan di Timur Tengah dan harga minyak yang bertahan tinggi melengkapi daftar risiko.

Reza: Pola Hammer di Support, tapi MACD Masih Bearish

Technical Analyst BRI Danareksa Sekuritas, Reza Diofanda, melihat peluang technical rebound karena candle terakhir membentuk pola hammer (candle dengan ekor bawah panjang yang kerap jadi tanda pembalikan) di area support 5.850–5.800. Meski begitu, indikator MACD masih menunjukkan momentum bearish sehingga penguatan butuh konfirmasi. "Resistance terdekat berada pada rentang 6.000–6.020," ujar Reza. Jika support jebol, indeks berpotensi meluncur ke 5.750.

Phintraco Sekuritas memperkirakan IHSG bergerak menyamping di rentang 5.800–6.000 selama belum ada penutupan di atas 6.000. BNI Sekuritas memetakan skenario lain: tembus 5.950 membuka jalan ke resistance 5.980–6.000, sedangkan gagal di 6.000 bisa membawa koreksi ke support 5.870–5.900 atau bahkan di bawah 5.770.

Yang ditunggu berikutnya adalah apakah IHSG sanggup menutup perdagangan di atas 6.000 setelah data CPI keluar, atau kembali terseret ke area 5.800 menjelang rapat The Fed akhir bulan ini.

Artikel ini bersifat informasi dan bukan rekomendasi untuk membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan pembaca.

Komentar (0)

Masuk untuk menulis komentar.

Belum ada komentar.

Kami memakai cookie untuk analisis kunjungan. Baca Kebijakan Privasi kami.