IHSG Dibuka Menguat 0,18% ke 5.397, Uji Resistance 5.400 saat Asing Net Sell Rp1,49 Triliun
Indeks yang kemarin sempat terpuruk di bawah 5.250 dan menutup hari dengan lonjakan lebih dari satu persen kini berdiri tepat di depan pintu 5.400. Pertanyaannya, apakah pembeli domestik cukup kuat untuk membukanya sementara investor asing masih menjual.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka menguat 9,44 poin atau 0,18 persen ke level 5.397,34 pada pembukaan perdagangan Jumat (23/10/2026) pukul 09.00 WIB, menurut laporan ANTARA. Indeks LQ45 naik 0,56 poin atau 0,10 persen ke 545,13. Data CNBC Indonesia mencatat IHSG sempat menyentuh 5.405,88 (naik 0,33 persen) di awal sesi, lalu bergerak di kisaran 5.394 dengan nilai transaksi Rp322,92 miliar.
Penutupan Kamis: Naik 1,12 Persen, Asing Jual Rp1,49 Triliun
Pada Kamis (22/10/2026), IHSG ditutup di 5.387,90, naik 59,54 poin atau 1,12 persen, setelah dibuka anjlok 1,51 persen ke 5.247 dan sempat melemah ke sekitar 5.185. Penguatan itu melanjutkan rebound yang sudah berjalan sejak Selasa. Sebanyak 467 saham menguat, 204 melemah, dan 123 stagnan. Saham bank besar jadi motor: BBNI naik 4,92 persen ke Rp3.410, BMRI 4,05 persen ke Rp3.850, dan BBRI 3,20 persen ke Rp2.900. ANTM menguat 4,41 persen ke Rp2.840.
Kenaikan itu terjadi tanpa dukungan investor asing. Menurut CNBC Indonesia, asing mencatat net sell sekitar Rp1,49 triliun di seluruh pasar. Di tengah penjualan itu, BMRI tetap jadi saham yang paling banyak dibeli asing dengan nilai Rp152,31 miliar, disusul DMAS Rp52,48 miliar dan AMMN Rp51,26 miliar.
BI Tahan Suku Bunga 5,75 Persen, MSCI Belum Reda
Sentimen domestik datang dari Bank Indonesia (BI) yang menahan BI Rate di 5,75 persen dan menaikkan suku bunga deposit facility (fasilitas simpanan perbankan di BI) 25 basis poin untuk menjaga rupiah. BI juga akan melonggarkan Giro Wajib Minimum (GWM) bertahap mulai 1 November 2026, yang diperkirakan menambah likuiditas hingga Rp190 triliun, sebagaimana dilaporkan Kontan.
Dari sisi risiko, pasar masih mencermati usulan MSCI menurunkan status Indonesia dari emerging market ke standalone market. Presiden Prabowo Subianto menanggapinya dengan menegaskan Indonesia tidak akan gentar. Mulai 2 November 2026, saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi (High Shareholding Concentration/HSC) juga dikeluarkan dari perhitungan IHSG.
Rupiah Melemah, Bursa Asia Campur Aduk
Rupiah dibuka melemah 0,29 persen ke Rp18.073 per dolar AS pada pagi ini, menurut data kumparan. Bursa Asia bergerak beragam: Nikkei 225 turun 1,36 persen, sedangkan Hang Seng naik 2,53 persen, Shanghai Composite naik 1,54 persen, dan Straits Times naik 0,21 persen. Dari Jepang, inflasi September tercatat 2,1 persen secara tahunan, naik dari 1,9 persen.
Kemarin, bursa Asia ditutup melemah akibat tekanan pada saham teknologi dan AI, sementara harga minyak Brent bertahan di kisaran $112 per barel karena kekhawatiran konflik Timur Tengah.
Analis: Resistance 5.400, Support 5.300
Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas, Alrich Paskalis Tambolang, menyebut IHSG berpeluang menguji resistance 5.400 dan perlu bertahan di atas level itu untuk melanjutkan penguatan, dengan support terdekat di 5.300. Ia juga mengingatkan potensi aksi ambil untung pada akhir pekan.
Technical Analyst BRI Danareksa Sekuritas, Reza Diofanda, memperkirakan indeks berpotensi melanjutkan tren positif menuju resistance 5.400, seperti dikutip IDX Channel. Pelaku pasar juga menunggu tindak lanjut reformasi pasar modal oleh Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Dua analis menunjuk angka yang sama. Yang belum jelas, apakah 5.400 berubah jadi lantai baru atau justru tempat pembeli menyerah menjelang akhir pekan, sementara data uang beredar September dari BI masih ditunggu.
Artikel ini bersifat informasi dan bukan rekomendasi beli atau jual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca.
Komentar (0)
Masuk untuk menulis komentar.
Belum ada komentar.