CompileDaily
IHSG

IHSG Dibuka Anjlok 1,51% ke 5.247, Sempat Turun 2% saat Rupiah Melemah dan MSCI Membayangi

Admin CompileDaily ·
Bagikan WhatsApp X Facebook Threads

Dua sesi rebound sempat menambal sebagian luka pekan lalu, tetapi IHSG kembali membuka hari dengan gap turun yang menyeret indeks mendekati lagi batas psikologis 5.000.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka melemah 80,38 poin atau 1,51 persen ke level 5.247,98 pada pembukaan perdagangan Kamis (22/10/2026) pukul 09.00 WIB, menurut laporan pembukaan kumparan. Angka itu dihitung dari penutupan Rabu (21/10/2026) di 5.328,36. Pada pukul 09.03 WIB, CNBC Indonesia mencatat indeks sudah turun 111,22 poin atau 2,09 persen ke 5.217,14, dengan rentang pergerakan 5.213,34 hingga 5.250,94.

Rabu Ditutup Hijau, tapi Tekanan Jual Sudah Terlihat

Sehari sebelumnya IHSG naik 49,47 poin atau 0,94 persen ke 5.328,36, melanjutkan rebound 5,65 persen pada sesi sebelumnya. Menurut Industry.co.id, nilai transaksi mencapai Rp17,90 triliun dengan 369 saham naik, 308 turun, dan 116 stagnan. Sembilan dari sebelas sektor menguat; Kesehatan memimpin dengan kenaikan 3,35 persen.

Penguatan itu terjadi di tengah posisi yang masih dalam, setelah pembukaan hijau Rabu dan rebound dari bawah 5.000 pada Selasa. Kontan mencatat IHSG masih turun 10,34 persen dalam sepekan terakhir dan 38,38 persen sejak awal tahun.

Saham Big Cap dan Grup Prajogo Pangestu Tertekan

Pada pembukaan, tekanan datang hampir dari semua lini. InvestorTrust melaporkan pada pukul 09.06 WIB IHSG berada di 5.234, turun lebih dari 100 poin atau 1,81 persen. Saham BBCA, BBRI, BMRI, dan BRMS turun, begitu pula saham-saham grup Prajogo Pangestu: BREN, TPIA, dan BRPT. Sektor industri dan bahan baku turun lebih dari 2 persen, sementara kesehatan naik tipis 0,35 persen.

Sumber-sumber tersebut tidak merinci persentase penurunan masing-masing saham, sehingga daftar saham teraktif dan penggerak indeks lengkap belum dapat dipastikan pada saat artikel ini ditulis. Data net buy atau net sell asing untuk sesi hari ini juga belum dirilis.

BI Tahan Suku Bunga, MSCI Masih Jadi Beban

Lihat Layanan Kami

Dari dalam negeri, Bank Indonesia menahan BI Rate di 5,75 persen pada Rapat Dewan Gubernur 20-21 Oktober, menaikkan Deposit Facility ke 5,00 persen, dan mengumumkan kebijakan baru untuk mendorong penyaluran kredit perbankan. Rupiah dibuka melemah 12,20 poin atau 0,07 persen ke Rp17.997,80 per dolar AS dari Rp17.985,60.

Perhatian pasar tetap tertuju ke MSCI, yang membuka konsultasi atas usulan menurunkan status pasar saham Indonesia dari Emerging Market ke Standalone Market. Menurut CNBC Indonesia, konsultasi berlangsung hingga April 2027 dengan keputusan akhir paling lambat 30 Juni 2027. Presiden Prabowo Subianto menyebut langkah itu sebagai tekanan yang dimaksudkan untuk menakut-nakuti, dan menegaskan Indonesia tidak akan gentar.

Dari luar negeri, investor mencermati kenaikan inflasi Inggris dan lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah Prancis. Bursa Asia pagi ini bergerak beragam: Nikkei 225 turun 0,38 persen, Hang Seng turun 0,58 persen, sedangkan Indeks Komposit Shanghai naik 0,74 persen.

Analis: Support 5.111 dan 4.907, Resistance 5.427

Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, M. Nafan Aji Gusta, memetakan support IHSG di 5.111 dan 4.907 serta resistance di 5.427 dan 5.597, seperti dikutip Warta Ekonomi. Ia juga mengingatkan yield obligasi pemerintah tenor 10 tahun naik 3,86 persen ke 7,446 persen.

Analis MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, seperti dikutip Liputan6, menempatkan support di 4.915 dan 4.754, dengan resistance di 5.404 dan 5.563. "Target penguatan minimal sebelumnya telah tercapai," ujarnya. Level 5.000 dan titik terendah enam bulan di 4.907 yang tersentuh pada 19 Oktober kini menjadi batas yang diuji lagi.

Yang ditunggu berikutnya adalah apakah IHSG mampu bertahan di atas 5.111 hingga sesi pertama ditutup, atau justru kembali menguji 5.000 seperti awal pekan.

Disclaimer: Artikel ini bersifat informasi dan bukan rekomendasi untuk membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan pembaca, yang perlu mempertimbangkan risiko masing-masing.

Komentar (0)

Masuk untuk menulis komentar.

Belum ada komentar.

Kami memakai cookie untuk analisis kunjungan. Baca Kebijakan Privasi kami.