IHSG Dibuka Melemah 0,33% ke 4.980 lalu Rebound ke Atas 5.000, Saham Bank Memimpin
Setelah ambles 3,64 persen sehari sebelumnya, IHSG butuh waktu dua menit untuk berbalik dari zona merah ke atas 5.000 — meski bayang-bayang MSCI belum bergeser.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka melemah 16,44 poin atau 0,33 persen ke level 4.980 pada awal perdagangan Selasa (20/10/2026) pukul 09.00 WIB, menurut laporan Bloomberg Technoz. Dalam dua menit pertama, indeks berbalik naik hingga 1,8 persen ke 5.087.
Dua Menit dari Merah ke Hijau di Atas 5.000
Volume pada pembukaan mencapai 6,47 miliar saham dengan nilai transaksi Rp3,28 triliun dan frekuensi 159.563 kali. Sebanyak 291 saham menguat, 306 melemah, dan 131 stagnan, sehingga kenaikan indeks belum diikuti penguatan yang merata.
Pada pukul 09.04 WIB, IHSG berada di sekitar 5.036 dengan kenaikan 35 poin atau 0,76 persen, menurut pemberitaan InvestorTrust. Angka itu meleset tipis dari level penutupan Senin (19/10/2026) di 4.996,61, yang berarti kenaikan sebenarnya sekitar 0,7 persen.
Saham Bank Menopang, Beberapa Saham Melonjak 20 Persen
Sektor perbankan menjadi penopang utama dengan kenaikan lebih dari 1,62 persen. Sektor bahan baku, energi, dan konsumer nonprimer ikut menguat, sedangkan industri, konsumer primer, dan kesehatan melemah.
Di jajaran penguat teratas, saham TRUK naik 20,65 persen ke Rp4.850, BSWD naik 20 persen ke Rp8.100, dan HADE naik 23,53 persen ke Rp21.
Asing Lepas Rp2,28 Triliun, Angka Sumber Berbeda
Pada penutupan Senin, IHSG turun 188,49 poin atau 3,64 persen ke 4.996,61. Investor asing mencatat net sell Rp2,28 triliun menurut IDX Channel, dengan saham BBRI, BBCA, TLKM, BMRI, dan AADI paling banyak dilepas. InvestorTrust menulis angka lebih kecil, Rp1,72 triliun, dengan BBRI sebagai saham yang paling banyak dijual.
Kedua sumber sama-sama menunjukkan asing masih keluar. Penurunan hari itu menyusul pembukaan Senin yang sudah anjlok 4,31 persen ke 4.961,88 dan pekan lalu yang berakhir dengan koreksi 14,91 persen.
MSCI Usul Turunkan Status Indonesia ke Standalone Market
Pemicunya adalah konsultasi yang dibuka MSCI pada Jumat (16/10/2026), yang mengusulkan klasifikasi Indonesia turun dari emerging market menjadi standalone market. MSCI menyebut kekhawatiran soal transparansi kepemilikan saham dan dugaan perdagangan terkoordinasi. Keputusan final dijadwalkan paling lambat akhir Juni 2027.
Direktur Pengembangan Bursa Efek Indonesia (BEI), Iding Pardi, mengaku terkejut karena jadwalnya maju hampir sebulan dari kebiasaan pengumuman sekitar 12 November. "Nah itu yang kami juga terus terang surprise, banyak pihak surprise, yang pelaku pasar juga surprise," ujarnya seperti dikutip InvestorTrust.
BRI Danareksa Sekuritas mencatat perhatian pasar tertuju pada reformasi lanjutan BEI, termasuk rencana mengeluarkan 80 saham kategori high shareholding concentration (HSC) dari perhitungan IHSG. Bursa menegaskan langkah itu bukan delisting, menurut Liputan6. Isu MSCI ini juga dibahas di artikel CompileDaily sebelumnya.
Proyeksi Analis: Rebound Teknis, Koreksi Belum Tertutup
Head of Retail Research Analyst BNI Sekuritas, Fanny Suherman, memperkirakan IHSG berpeluang rebound teknis ke 5.020–5.160, dengan support di 4.750–4.850. Ia menyarankan investor mengambil untung lebih dulu karena "potensi lanjut koreksi masih terbuka selama ketidakpastian MSCI masih ada".
Analis MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, melihat peluang penguatan jangka pendek ke 5.046–5.133 dengan risiko berbalik arah ke 4.766–4.846. Level 5.000 yang kembali direbut pagi ini praktis menjadi batas psikologis pertama yang akan diuji.
Pertanyaannya, apakah pembeli bank cukup kuat menahan indeks di atas 5.000 ketika asing masih menjual dan konsultasi MSCI masih berjalan? Sesi perdagangan hari ini akan menjadi ujian awal.
Artikel ini bersifat informasi dan bukan rekomendasi beli atau jual saham. Keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan pembaca.
Komentar (0)
Masuk untuk menulis komentar.
Belum ada komentar.