CompileDaily
Nutrisi

BPOM dan Kemenpar Padukan Desa Pangan Aman dengan 6.300 Desa Wisata untuk Tekan Keracunan

Admin CompileDaily ·
Bagikan WhatsApp X Facebook Threads

Wisatawan menilai desa wisata dari pemandangannya, sementara satu hal lain baru terasa ketika bermasalah: apakah makanan khas yang mereka santap aman dikonsumsi.

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dan Kementerian Pariwisata (Kemenpar) menandatangani nota kesepahaman untuk memperkuat keamanan pangan di desa wisata. Penandatanganan berlangsung pada Pertemuan Germas SAPA 2026 di Kantor BPOM, Jakarta, Selasa (20/10/2026), menurut laporan detikHealth. Naskah ditandatangani Kepala BPOM Taruna Ikrar dan Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana.

Dua Program Dilebur

Isi kerja samanya mengintegrasikan program Desa Pangan Aman milik BPOM dengan program Desa Wisata milik Kemenpar. Edukasi dan pendampingan keamanan pangan ditargetkan menjangkau pengelola desa wisata, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta masyarakat, termasuk produsen makanan khas daerah. Headline.co.id menyebut tujuannya agar masyarakat lebih paham memilih, mengolah, memproduksi, dan mengonsumsi pangan aman.

Kemenpar mencatat lebih dari 6.300 desa wisata di platform Jadesta yang dikelolanya. Widiyanti mengatakan keamanan pangan menentukan kepercayaan wisatawan dan daya saing destinasi, dan desa wisata harus "aman untuk dinikmati". Dalam kutipan lain, ia menyebut "pada akhirnya 6.300 desa wisata ini akan lebih cepat lagi naik kelas".

Yang Dibidik: Wisatawan dan Produk Lokal

DetikHealth mencatat dua tujuan utama kerja sama ini: melindungi kesehatan wisatawan dan meningkatkan kualitas produk pangan lokal. Bagi pelaku usaha di desa wisata, terutama produsen makanan khas, artinya pendampingan keamanan pangan akan masuk ke jalur pembinaan yang sama dengan program desa wisata, bukan program terpisah.

Rekam Jejak Desa Pangan Aman

Desa Pangan Aman berjalan sejak 2017. BPOM menyebut program itu pada 2025 menjangkau 6.322 desa dan kelurahan serta melatih 31.541 kader keamanan pangan. Di luar desa, BPOM juga menjalankan Pasar Pangan Aman Berbasis Komunitas di 527 pasar dan pembudayaan keamanan pangan di 19.603 sekolah.

Lihat Layanan Kami

DetikHealth juga mengutip data pemantauan 2025 terhadap 66 desa wisata, dengan pendapatan desa naik 29,62 persen dan penyerapan tenaga kerja naik 53,34 persen dibanding tahun sebelumnya. Sumber yang kami rujuk tidak menjelaskan seberapa besar kontribusi program keamanan pangan terhadap angka tersebut, jadi hubungan sebab-akibatnya belum bisa disimpulkan. Contoh lain yang disebut adalah Desa Kenteng di Kabupaten Semarang, tempat jumlah balita stunting turun dari 31 menjadi 11 anak.

Indikator Keberhasilan Belum Disusun

Menurut detikHealth, indikator keberhasilan kerja sama ini baru akan disusun. Tiga yang disebut adalah penurunan kasus keracunan pangan, peningkatan pengetahuan masyarakat, dan perbaikan kualitas produk pangan lokal. BPOM mengutip data WHO bahwa kasus keracunan pangan diperkirakan mencapai 29 juta orang, sekitar 10 persen penduduk.

Isu ini bukan sekadar urusan wisata. Pekan-pekan terakhir, dugaan keracunan massal di sekolah kembali jadi sorotan, termasuk dugaan pencemaran air sumur E. coli di SMKN 1 Gunungguruh, Sukabumi yang melibatkan 212 orang. Kasus itu masih berstatus dugaan dalam pemberitaan sumbernya, dan tidak terkait langsung dengan kerja sama BPOM–Kemenpar.

Harapan: Dari Mikro ke Ekspor

Taruna menegaskan bahwa tugas BPOM tidak hanya penindakan. Menurut Headline.co.id, ia menyebut fungsi penindakan hanya sekitar 10 persen, sementara sisanya berupa edukasi, pembinaan, dan pendampingan. Dalam acara itu, seperti dikutip detikHealth, ia berkata, "semakin kuat, semakin menembus, semakin mengakar ke masyarakat kita kalau kami bersinergi dengan Kementerian Pariwisata."

Harapan lanjutannya, usaha pangan skala mikro bisa tumbuh menjadi usaha kecil dan menengah, bahkan menembus ekspor. Pertanyaan yang belum dijawab: seperti apa target angka penurunan keracunan pangan yang akan ditetapkan, dan berapa dari 6.300 desa wisata yang akan tersentuh lebih dulu?

Artikel ini bersifat informasi umum dan bukan pengganti diagnosis atau nasihat medis. Jika mengalami gejala keracunan makanan seperti mual, muntah, atau diare berkepanjangan, segera konsultasikan dengan tenaga kesehatan.

Komentar (0)

Masuk untuk menulis komentar.

Belum ada komentar.

Kami memakai cookie untuk analisis kunjungan. Baca Kebijakan Privasi kami.