Tim Deno Gabung Cloudflare, Runtime Hanya Didukung 1 Tahun Lagi dan Deno Deploy Tutup 6 Bulan
Deno
Ryan Dahl membuat Deno pada 2018 untuk memperbaiki kekurangan Node.js, ciptaannya sendiri. Delapan tahun kemudian, ia memilih menghentikan pengembangan Deno dan pindah ke perusahaan yang selama ini jadi pesaing langsung produknya.
Seluruh tim Deno resmi bergabung dengan Cloudflare, diumumkan Jumat (9/10/2026) lewat pengumuman resmi di blog Deno yang ditulis Ryan Dahl dan blog Cloudflare yang ditulis bersama Kenton Varda. Konsekuensinya besar bagi pengembang: runtime Deno hanya mendapat dukungan satu tahun lagi, sementara layanan hosting Deno Deploy akan ditutup enam bulan dari sekarang. Nilai kesepakatan tidak diumumkan.
Runtime Deno Masuk Masa Pemeliharaan Setahun
Menurut blog Deno, runtime tetap merilis pembaruan bulanan berisi perbaikan bug dan keamanan selama setahun ke depan. Setelah itu pengembangannya berhenti. Deno tetap berstatus open source, dan Dahl mempersilakan pihak lain melanjutkan pengembangannya.
"We know this is a consequential change for people who have built on Deno," tulis Dahl, mengakui perubahan ini berdampak besar bagi pengguna. Kepada The New Stack, Dahl menyebut nasib runtime itu kini bergantung pada komunitas: "How it lives on is up to the community."
Deno Deploy Ditutup, JSR Tetap Jalan
Deno Deploy masih beroperasi enam bulan sebelum dimatikan. Pelanggan berbayar yang pindah ke Cloudflare Workers dijanjikan bantuan migrasi. Registri paket JSR, yang dirancang khusus untuk TypeScript dan modul ESM, tetap beroperasi dan infrastrukturnya dipindahkan ke Cloudflare.
Tim Deno juga akan terus mendukung rusty_v8, pustaka penghubung mesin V8 ke bahasa Rust, dan berupaya mengintegrasikannya ke workerd.
Celld Dilebur ke Workerd agar Workers Bisa Dijalankan Mandiri
Alasan akuisisi ini ada pada celld, proyek yang dirilis tim Deno pada Agustus 2026. Celld adalah satu biner Rust yang meniru model pemrograman Cloudflare Workers dan Durable Objects untuk dijalankan di server sendiri, dengan satu-satunya ketergantungan eksternal berupa penyimpanan objek.
Cloudflare akan menggabungkan kode dan gagasan celld ke workerd, runtime Workers milik Cloudflare yang sudah open source. Dahl dan salah satu pendiri Deno, Bert Belder, memimpin upaya itu. Varda menyebut workerd memakai kode yang sama dengan yang dijalankan Cloudflare di produksi, tapi dukungan Durable Objects di dalamnya masih terbatas pada satu instans.
"The Deno team is exactly the talent we need to finally make it happen," ujar Varda, dikutip The New Stack.
Dari Rival Deno Deploy Menjadi Satu Atap
Deno lahir pada 2018 dan menghimpun sekitar $26 juta dari dua putaran pendanaan, menurut The New Stack. Produk komersialnya, Deno Deploy, selama ini bersaing langsung dengan Cloudflare Workers. Hubungan keduanya bahkan pernah canggung: pada 2021 Cloudflare sempat keliru memblokir situs dan registri modul Deno karena salah mengenali file TypeScript sebagai konten video.
Dahl menyebut agen AI sebagai salah satu target utama platform gabungan ini. "If you're building agents at scale and want to run them on your own infrastructure," tulisnya, menyasar tim yang ingin menjalankan agen dalam skala besar di infrastruktur sendiri. Langkah ini menambah daftar perusahaan yang menimbang ulang alat pengembangan di tengah ledakan agen, seperti Supabase yang mengakuisisi Turso pekan lalu.
Apa Artinya bagi Pengembang
Bagi tim yang menjalankan aplikasi di Deno Deploy, tenggat enam bulan adalah angka paling mendesak. Untuk proyek yang memakai runtime Deno di server sendiri, masih ada waktu setahun untuk memutuskan: bertahan dengan versi terakhir, pindah ke Node.js atau runtime lain, atau menunggu apakah komunitas membuat fork yang aktif.
Varda menjanjikan pengumuman lanjutan dalam beberapa bulan ke depan. Yang belum terjawab: apakah workerd versi baru cukup matang sebelum Deno Deploy benar-benar padam, dan apakah komunitas mau memikul runtime yang ditinggal penciptanya sendiri.
Komentar (0)
Masuk untuk menulis komentar.
Belum ada komentar.