Menkes: Estimasi Kasus TBC Turun ke 1,08 Juta pada 2026, Baru 666 Ribu Kasus Ditemukan
Kabar baiknya, perkiraan jumlah penderita tuberkulosis di Indonesia turun untuk pertama kalinya. Penjelasannya justru terdengar kontraintuitif: angkanya turun karena petugas makin gencar mencari pasien.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyampaikan di Jakarta, Kamis (22/10/2026), bahwa estimasi insiden tuberkulosis (TBC) di Indonesia menurun. Ia menyebut ini pertama kalinya Indonesia melihat penurunan tersebut, menurut laporan ANTARA. Penyebabnya, kata Budi, "Karena kita agresif meningkatkan penemuan jumlah kasus."
Dari 1,09 Juta ke 1,08 Juta Kasus
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memperkirakan sekitar 1.080.000 kasus TBC pada 2026. Media lokal yang mengutip Kemenkes mencatat estimasi sekitar 1.092.000 kasus pada 2024 dan 1.090.000 pada 2025. Artinya penurunan sekitar 12.000 kasus, atau sekitar 1,1 persen, dalam dua tahun, menurut hitungan CompileDaily dari angka tersebut.
Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono sebelumnya, pada 30 September, mengatakan penurunan itu tercermin dalam estimasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dari 1,09 juta ke 1,08 juta. Namun ia menegaskan sisi buruknya. "Berita tidak baiknya adalah bahwa kita sekarang nomor 2 di seluruh dunia setelah India," ujarnya, seperti dikutip kumparan.
Dante, dalam keterangan yang sama, menyebut skrining dilakukan di puskesmas, lewat Cek Kesehatan Gratis di masyarakat dan fasilitas swasta, serta lewat layanan satu atap berupa rontgen dan tes dahak di daerah dengan kasus tinggi. Anggota keluarga serumah pasien mendapat terapi pencegahan selama tiga bulan.
Penemuan Kasus Naik dari 440 Ribu
Budi menjelaskan jumlah kasus yang ditemukan meningkat sejak 2022. Dalam kutipan ANTARA, ia menyebut angkanya naik dari 440 ribu menjadi 700 ribu, lalu 800 ribu, hingga 856 ribu. Tahun untuk tiap angka tidak dirinci dalam laporan tersebut.
Untuk 2026, Kemenkes mencatat 666 ribu kasus sudah ditemukan dari estimasi 1,08 juta. Dari jumlah itu, 599 ribu pasien telah diobati, dengan cakupan pengobatan 90 persen. Hitungan CompileDaily menunjukkan 666 ribu setara sekitar 62 persen dari estimasi, jauh di bawah target penemuan 90 persen.
Target 90-95-90 dan Selisih yang Masih Lebar
Target pemerintah yang disebut Menkes adalah 90 persen kasus ditemukan, 95 persen diobati, dan 90 persen sembuh. Jika target penemuan 90 persen diterapkan pada estimasi 1,08 juta, kasus yang perlu ditemukan sekitar 972 ribu, sehingga masih ada selisih sekitar 306 ribu kasus dari angka 666 ribu saat ini. Itu juga hitungan CompileDaily, bukan angka resmi Kemenkes.
Budi menekankan keberhasilan bergantung pada kepatuhan pasien meminum obat setiap hari. Menurut dia, melewatkan dosis bisa memicu kambuh atau resistansi obat. Ia juga menyebut TBC menyebabkan sekitar 120 ribu kematian per tahun, tanpa merinci sumber data.
Rontgen untuk 10 Ribu Puskesmas, Pengobatan Dipersingkat
Menkes memaparkan sejumlah langkah. Mesin rontgen direncanakan dibagikan ke 10 ribu puskesmas dalam tiga hingga empat tahun. Mesin pemeriksaan sejenis PCR akan dipakai untuk memastikan keberadaan bakteri TBC dari dahak. Skrining diperluas ke masyarakat, lapas, dan pondok pesantren.
Kemenkes juga memfasilitasi uji klinis tahap 3 vaksin M72. Regimen pengobatan telah dipangkas dari 12 bulan menjadi 6 bulan, dan pada sebagian kasus 4 bulan. Regimen baru bersama TB Alliance berpotensi memangkas pengobatan hingga satu bulan, tetapi masih berupa potensi.
Skrining TBC juga bagian dari program Cek Kesehatan Gratis (CKG). CompileDaily sebelumnya mengulas temuan 7,13 juta kasus hipertensi dari CKG dan rendahnya cakupan pengobatan.
Pertanyaan berikutnya adalah apakah kenaikan penemuan kasus terus berlanjut hingga akhir 2026, dan apakah selisih sekitar 306 ribu kasus dari target penemuan bisa dikejar lewat rontgen puskesmas dan skrining komunitas.
Artikel ini bersifat informasi umum dan bukan pengganti diagnosis atau saran medis. Jika Anda mengalami batuk lebih dari dua minggu atau gejala lain yang mengkhawatirkan, konsultasikan dengan tenaga medis atau periksa ke puskesmas terdekat.
Komentar (0)
Masuk untuk menulis komentar.
Belum ada komentar.