Kemenkes Catat 277.075 Kasus ISPA Imbas Karhutla, 22,5% di Antaranya Balita
Di antara gejala yang diminta diwaspadai orang tua, ada satu yang gampang luput: bayi yang tiba-tiba sulit menyusu atau minum, padahal itu salah satu tanda anak perlu segera dibawa ke fasilitas kesehatan.
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat 277.075 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di wilayah terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di tujuh provinsi per 12 Oktober 2026. Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes, Aji Muhawarman, menyampaikan data itu di Jakarta pada Rabu (14/10/2026), seperti dilaporkan ANTARA dan CNN Indonesia.
62.400 Kasus pada Anak Usia 0–5 Tahun
Dari total tersebut, 62.400 kasus atau 22,5 persen dialami anak berusia 0–5 tahun. Angka itu bisa dihitung ulang: 62.400 dibagi 277.075 menghasilkan sekitar 22,52 persen. detikHealth menambahkan bahwa kasus tersebar di 63 kabupaten/kota. Media itu menyebut data per 11 Oktober pukul 16.00 WIB, sedangkan ANTARA dan CNN Indonesia menulis 12 Oktober, sehingga tanggal pastinya perlu dicek ke rilis resmi.
Aji menjelaskan asap karhutla mengandung partikel halus PM2.5 yang dapat memicu ISPA, batuk, dan sesak napas, serta memperburuk asma. Kelompok paling rentan adalah bayi, balita, ibu hamil, lansia, dan penderita penyakit paru kronis.
2.106 Tenaga Kesehatan dan 2,89 Juta Masker
Kemenkes bersama pemerintah daerah memperkuat pemantauan penyakit, layanan, kesiapan fasilitas, dan distribusi logistik. Sebanyak 2.106 tenaga medis dan kesehatan sudah dimobilisasi. Logistik yang disalurkan mencakup 2.892.040 masker, 280 oxygen concentrator (alat penghasil oksigen medis), 4.908 alat pelindung diri, 9 pembersih udara, dan 350 dus makanan tambahan.
CNN Indonesia mencatat 1.691 puskesmas dan 36 rumah sakit rujukan disiagakan. Beberapa wilayah di Kalimantan menjalankan program "Oase Udara", dan sejumlah daerah terdampak telah menyediakan ruang oksigen.
Gejala yang Harus Segera Dibawa ke Fasilitas Kesehatan
Anak yang sesak napas, bernapas cepat, atau sulit menyusu dan minum perlu segera diperiksa. Kemenkes juga mengingatkan agar nebulizer tidak dipakai sembarangan. Alat uap itu hanya boleh digunakan sesuai indikasi dan arahan tenaga medis.
Selain gangguan napas, detikHealth mencatat peringatan soal iritasi mata dan kulit, perburukan asma dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), hingga risiko penyakit jantung dan stroke.
N95 untuk Dewasa, Kurangi Paparan untuk Balita
Warga diminta mengurangi aktivitas di luar rumah saat kualitas udara memburuk. Bila harus keluar, Kemenkes menyarankan respirator N95 atau KN95 yang terpasang rapat. Jika tidak tersedia, masker medis atau masker kain berlapis menjadi alternatif.
Untuk bayi dan balita, pesannya berbeda: mengurangi paparan asap lebih utama daripada mengandalkan masker. Pemerintah daerah juga diminta mengoptimalkan fasilitas yang bisa menjadi ruang aman dari asap, lengkap dengan penyaring udara yang sesuai, dikoordinasikan bersama dinas kesehatan dan badan penanggulangan bencana daerah.
Asap Berkepanjangan Ikut Menekan Kesehatan Jiwa
Kemenkes menyebut kabut asap yang berlangsung lama dapat memengaruhi kesehatan jiwa. Orang tua diminta menjaga rutinitas anak di dalam ruangan yang udaranya lebih bersih, dan memperhatikan perubahan perilaku, pola tidur, serta pola makan. Keluhan yang menetap dan mengganggu sebaiknya dikonsultasikan ke tenaga kesehatan.
Angka nasional ini belum bisa disandingkan langsung dengan data daerah. Dinas Kesehatan Sumatera Selatan, misalnya, mencatat 416.621 kasus ISPA sepanjang 2026, tetapi cakupannya seluruh ISPA sejak Januari, sedangkan sumber nasional tidak menyebut titik awal hitungan maupun nama ketujuh provinsi.
Pembaruan berikutnya dari Kemenkes akan menunjukkan apakah angka 277.075 mulai melandai atau terus bertambah selama asap belum reda.
Artikel ini bersifat informasi dan bukan pengganti diagnosis. Jika Anda atau keluarga mengalami sesak napas, batuk berkepanjangan, atau demam setelah terpapar asap, segera konsultasikan dengan tenaga medis.
Komentar (0)
Masuk untuk menulis komentar.
Belum ada komentar.