Eka Robotics Raup $150 Juta pada Valuasi $1,45 Miliar, Robotnya Klaim Ambil 1.500 Objek per Jam
Robot yang mengandalkan rasa, bukan penglihatan, untuk menyelesaikan "milimeter terakhir" — taruhan yang membuat dua investor besar menaruh $150 juta sebelum ada pelanggan yang disebut namanya.
Startup robotika asal Cambridge, Massachusetts, Eka Robotics, mengumumkan pendanaan Seri A sekitar $150 juta pada valuasi $1,45 miliar (pasca-uang) pada Selasa (20/10/2026), menurut laporan TechCrunch. Putaran ini dipimpin Andreessen Horowitz (a16z) dan F-Prime, dengan Obvious Ventures dan E14 Fund, pemimpin putaran seed, ikut melanjutkan dukungan.
Pendiri dari MIT dan Google DeepMind
Eka didirikan Pulkit Agrawal, profesor di Massachusetts Institute of Technology (MIT), bersama Tuomas Haarnoja, mantan peneliti Google DeepMind. Keduanya bertemu saat menempuh studi pascasarjana di University of California, Berkeley. F-Prime berafiliasi dengan FMR, induk Fidelity Investments, menurut Tech Funding News.
TechCrunch mencatat Raghu Raghuram, mitra umum a16z, ikut memimpin putaran dari sisi investor.
Gripper peka gaya dan model vision-force-action
Produk Eka berupa arsitektur manipulasi dengan dua bagian. Pertama, gripper dengan lebih banyak sensor gaya daripada gripper standar, dengan biaya perangkat keras di bawah $1.000. Kedua, model pembelajaran mendalam jenis vision-force-action (VFA), yang menggabungkan penglihatan, rasa gaya, dan keputusan gerakan.
Agrawal menjelaskan pendekatannya dengan satu kalimat: "Vision is not the primary way in which you close this last millimeter problem". Menurutnya penglihatan membantu menentukan posisi objek, sedangkan pengambilan sebenarnya dikendalikan lewat gaya. Pelatihan memakai simulasi fisika dan reinforcement learning (pembelajaran lewat percobaan dan imbalan), yang diklaim menghasilkan ribuan jam pengalaman robot dalam hitungan menit.
Klaim 1.500 objek per jam
Eka mengklaim robotnya mengambil sekitar 1.500 objek seberat hingga 1 kilogram per jam, dengan tingkat keberhasilan di atas 95 persen. TechCrunch menyebut pembandingnya sekitar 600 objek per jam untuk manusia, sehingga klaim itu setara 2,5 kali lipat kecepatan manusia (1.500 dibagi 600). Gripper diklaim memenuhi 5 juta siklus, dengan target 20 juta.
Menurut Tech Funding News, robot yang sama bisa memasang bohlam lampu sekaligus memasukkan kabel, dan Eka mengklaim sistemnya mampu menangani objek yang belum pernah dikenali sebelumnya. Habib Haddad dari E14 Fund menyebut "robots need to develop intuition for interacting with the physical world" sebagai dasar investasinya.
Semua angka tersebut adalah klaim perusahaan dan belum diuji pihak ketiga. Eka menjalankan pilot rahasia bersama sejumlah pelanggan industri untuk pekerjaan pick-and-place dan penanganan kabel, tanpa menyebut nama pelanggan.
Apa kata investor dan akademisi
Raghuram memperkirakan performa melampaui manusia pada banyak tugas manipulasi lincah dalam beberapa bulan ke depan. Menurut Tech Funding News, ia menyebut pendekatan Eka sebagai "the first approach I've seen that truly solves manipulation with the generality and throughput needed for deployments". Kris Hauser dari University of Illinois mengatakan demo Eka punya "wow factor" dibanding demo robot lain.
Pernyataan Eka sendiri lebih blak-blakan soal pasar: "generality without performance isn't a product. It's a lab demo". Dana baru dipakai untuk memperluas model VFA ke lebih banyak tugas, memperluas kemampuan sistem, dan mempercepat penerapan di pelanggan.
Persaingan robot yang ramai
Segmen robot kini ramai dari dua arah. Di ujung konsumen, Faraday Future meluncurkan robot humanoid FF Nova seharga $2.490. Di sisi pendanaan, startup perangkat keras AI lain seperti Tenstorrent juga baru meraup $1,5 miliar.
Ujian Eka berikutnya bukan lagi demo, melainkan apakah pilot rahasia itu berubah menjadi kontrak bernama dan angka throughput yang bisa diperiksa orang lain.
Komentar (0)
Masuk untuk menulis komentar.
Belum ada komentar.