Bitcoin Turun ke Kisaran $84.000, Likuidasi Long $403 Juta dalam Sejam Tekan Pasar Kripto
Bitcoin
Pasar kripto kerap dianggap berjalan di jalurnya sendiri, terlepas dari urusan minyak dan obligasi. Rabu kemarin, harga minyak di atas US$100 dan yield obligasi AS yang menanjak justru ikut menyeret Bitcoin.
Harga Bitcoin (BTC) melemah dan sempat menyentuh US$83.648 pada Rabu (7/10/2026) sebelum diperdagangkan di kisaran US$84.286, turun sekitar 1,5 persen dalam 24 jam berdasarkan data CoinGecko yang dikutip Indodax Academy. Penurunan ini dibarengi likuidasi posisi long senilai sekitar US$403,58 juta hanya dalam satu jam.
Pagi Masih di US$85.000, Siang Tergelincir
Pada pagi harinya, Bitcoin masih bertahan di atas US$85.000. Liputan6 mencatat harga BTC di US$85.265 atau sekitar Rp1,52 miliar pada pukul 08.40 WIB, sementara Periskop.id mencatat US$85.289,84 pada pukul 08.46 WIB. Kedua media memakai data CoinMarketCap, tetapi angka penurunan 24 jamnya berbeda: Liputan6 menulis 0,50 persen, Periskop 2,30 persen.
Ethereum (ETH) bergerak di sekitar US$2.686–2.688 pada pagi hari, lalu berada di US$2.618 menurut Indodax Academy. Kapitalisasi pasar kripto global pagi itu tercatat sekitar US$2,90–2,91 triliun.
Likuidasi Long Mendominasi
Data CoinGlass yang dikutip Indodax Academy menunjukkan posisi long yang terlikuidasi dalam satu jam mencapai sekitar 97 persen dari total likuidasi US$415,33 juta pada periode tersebut. Dalam 24 jam, total likuidasi menyentuh US$554,8 juta.
Likuidasi terjadi ketika posisi berleverase ditutup paksa oleh bursa karena margin tidak lagi mencukupi. Saat banyak posisi long ditutup sekaligus, tekanan jual bertambah dan harga bisa turun lebih cepat.
Di jajaran aset besar, Hyperliquid (HYPE) sempat mencatat koreksi terdalam pagi itu dengan penurunan 3,13 persen dalam 24 jam menurut Liputan6. Zcash (ZEC) justru menguat, naik 4,61 persen ke US$1.358,42 berdasarkan data Periskop.
Minyak US$101 dan Yield Obligasi 5,3 Persen
Tekanan datang dari luar pasar kripto. Harga minyak Brent naik ke US$101,63 per barel dan minyak mentah AS ke US$90,24. Indodax Academy, mengutip Reuters, menyebut setidaknya tujuh serangan terhadap kapal tanker terjadi pada pekan pertama Oktober.
Yield obligasi pemerintah AS (Treasury) tenor 10 tahun naik ke 5,307 persen dan tenor 30 tahun di sekitar 5,69 persen, sementara indeks dolar AS menguat 0,16 persen ke 102,07. Imbal hasil obligasi yang tinggi membuat aset berisiko seperti kripto kurang menarik dibandingkan instrumen yang memberi bunga pasti.
Pasar juga menanti risalah rapat Federal Reserve (The Fed). Bank sentral AS itu menaikkan suku bunga 25 basis poin pada September, dan peluang kenaikan lanjutan pada Oktober kini sekitar 20,5 persen menurut Indodax Academy.
Bitcoin Mengalir Keluar dari Bursa
Data on-chain memberi gambaran berbeda. Santiment mencatat arus keluar bersih 24.073 BTC dari bursa kripto pada Senin (5/10/2026), terbesar sejak 1 Maret 2026. Dompet yang menyimpan 10 hingga 10.000 BTC menambah 86.702 BTC dalam tiga pekan terakhir.
Santiment sendiri mengingatkan bahwa arus keluar dari bursa tidak otomatis mendorong harga naik, karena dampaknya tetap bergantung pada kekuatan permintaan. Secara teknikal, Bitcoin kini berada di dekat zona support US$83.300–84.600.
Di dalam negeri, minat pada aset kripto belum surut, dengan jumlah akun kripto Indonesia yang menembus 23,21 juta. Pelaku pasar kini menunggu risalah The Fed untuk melihat apakah zona support itu bertahan, atau tekanan dari minyak dan obligasi masih berlanjut.
Artikel ini bersifat informasi dan bukan rekomendasi untuk membeli atau menjual aset kripto. Harga kripto sangat fluktuatif, dan setiap keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan pembaca.
Komentar (0)
Masuk untuk menulis komentar.
Belum ada komentar.