CompileDaily
Virus

9 dari 113 Sampel Positif Influenza A di Bali, Dinkes Minta Daerah Waspada tapi Tak Panik

Admin CompileDaily ·
Bagikan WhatsApp X Facebook Threads

Pasiennya sudah sembuh semua, tapi surat kewaspadaan tetap dikirim ke seluruh kabupaten dan kota. Bagi pulau yang hidup dari keramaian wisatawan, temuan kecil di laboratorium sentinel dibaca sebagai sinyal dini, bukan alarm.

Dinas Kesehatan Provinsi Bali (Dinkes Bali) mencatat sembilan sampel positif influenza tipe A dari 113 sampel yang dikirim ke laboratorium rujukan nasional sepanjang Januari–September 2026. Temuan ini disampaikan Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Bali, I Gusti Ayu Raka Susanti, di Denpasar, Senin (5/10/2026), seperti dilaporkan ANTARA Bali.

"Sembilan hasil positif influenza tipe A, tetapi pasiennya sudah sembuh," kata Raka Susanti.

Sampel Berasal dari Dua Faskes Sentinel di Denpasar

Sampel diambil dari pasien yang memenuhi kriteria influenza dan influenza berat. Pengumpulannya lewat dua sistem pemantauan, yaitu Influenza Like Illness (ILI) untuk gejala mirip flu dan Severe Acute Respiratory Infection (SARI) untuk infeksi saluran napas berat.

Hanya ada dua fasilitas kesehatan yang ditunjuk sebagai lokasi surveilans sentinel influenza di Bali, keduanya di Kota Denpasar, menurut detikBali. Karena itu, Dinkes Bali belum memiliki sebaran kasus per kabupaten, dan subtipe virus dari sembilan sampel tersebut juga belum diungkap.

Surat Kewaspadaan Dikirim ke Kabupaten dan Kota

Dinkes Bali sudah mengirim surat kewaspadaan dini ke dinas kesehatan kabupaten/kota dan puskesmas. Pesannya disebarkan lewat promosi kesehatan, puskesmas, serta perangkat daerah.

Infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) masih mendominasi kunjungan ke fasilitas kesehatan, terutama puskesmas. Raka Susanti meminta masyarakat "waspada influenza tapi tidak panik."

Kebanyakan Kasus Ringan, Kelompok Rentan Perlu Perhatian

Lihat Layanan Kami

Sebagian besar kasus influenza tipe A bersifat ringan dan bisa sembuh sendiri. "Kalau ringan tidak perlu dirawat inap, bisa rawat jalan, karena kebanyakan kasus influenza tipe A bisa sembuh sendiri," ujarnya, dikutip Liputan6.

Risikonya berbeda bagi kelompok rentan seperti balita, lansia, dan penderita penyakit penyerta. Pada mereka, infeksi bisa memicu sesak napas, pneumonia, hingga komplikasi serius dan kematian pada sebagian kasus.

Gejala yang perlu diwaspadai meliputi demam, batuk, pilek, sakit tenggorokan, nyeri otot, dan rasa lelah berlebihan. Virus menyebar terutama lewat percikan saluran napas, serta lewat tangan atau permukaan yang terkontaminasi lalu menyentuh mata, hidung, atau mulut. Ruangan tertutup yang padat dan minim ventilasi, seperti sekolah, tempat penitipan anak, dan fasilitas kesehatan, butuh perhatian ekstra.

Dinkes menganjurkan istirahat cukup, banyak minum air, makan bergizi seimbang dengan sayur dan buah, membatasi aktivitas di luar rumah saat bergejala, dan memakai masker bila perlu.

Konteks Nasional: Positivity Rate Sempat 56 Persen

Temuan di Bali muncul saat aktivitas influenza nasional sedang naik. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat positivity rate influenza di surveilans sentinel mencapai 56 persen pada minggu ke-38 2026, dengan 148 dari 265 spesimen positif, menurut rilis resmi Kemenkes pada 28 September 2026. Varian yang dominan adalah influenza A (H1N1pdm09).

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengakui adanya kenaikan. "Memang ada kenaikan kasus influenza, khususnya di Indonesia dan Asia Tenggara," katanya. Kemenkes menilai aktivitas influenza masih tergolong sedang di surveilans puskesmas dan rendah di surveilans rumah sakit.

Menurut paparan Kemenkes akhir September yang dikutip Tirto, kasus terbanyak secara nasional tercatat di DKI Jakarta, disusul Jawa Barat dan Banten. Kemenkes sebelumnya menyebut puncak musiman influenza secara historis jatuh di sekitar minggu ke-39 hingga ke-40, atau sekitar akhir September hingga awal Oktober.

Pengawasan kesehatan di Bali juga sempat diperketat Kemenkes setelah kasus pekerja laboratorium Rusia yang diduga terpapar pes. Yang belum terjawab: apakah data minggu ke-39 dan ke-40 nanti mengonfirmasi puncak musiman itu, dan apakah Bali perlu menambah titik sentinel di luar Denpasar untuk memetakan sebaran kasus.

Artikel ini bersifat informasi dan bukan pengganti diagnosis medis. Jika mengalami demam tinggi, sesak napas, atau gejala yang memburuk, segera konsultasikan dengan dokter atau tenaga kesehatan.

Komentar (0)

Masuk untuk menulis komentar.

Belum ada komentar.

Kami memakai cookie untuk analisis kunjungan. Baca Kebijakan Privasi kami.