64% Puskesmas Kini Layani Kesehatan Jiwa, Gejala Depresi Tertinggi Ditemukan pada Ibu Hamil
Masa kehamilan sering digambarkan sebagai periode paling bahagia. Data skrining pemerintah menunjukkan sisi lain: di kelompok inilah gejala depresi paling banyak ditemukan.
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat sekitar 6.549 atau 64 persen puskesmas di Indonesia kini mampu memberikan layanan kesehatan jiwa. Angka itu disampaikan Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas Kemenkes, Maria Endang Sumiwi, dalam temu media di Jakarta, Jumat (9/10/2026), menjelang Hari Kesehatan Jiwa Sedunia yang jatuh pada 10 Oktober, sekaligus memperingati Hari Disleksia Sedunia dan Bulan Kesadaran ADHD.
Naik dari 3.800 Puskesmas, Target Penuh dalam Dua Tahun
Pada 2022–2023, jumlah puskesmas yang melayani kesehatan jiwa baru sekitar 3.800. Kemenkes menargetkan seluruh puskesmas mampu memberikan layanan ini dalam dua tahun ke depan.
Endang menempatkan isu ini di barisan depan. "Kesehatan jiwa ini bukan isu pinggiran. Ini adalah isu utama pembangunan kesehatan," katanya.
Kemenkes juga mencatat 932 puskesmas, atau 9 persen, sudah ramah penyandang disabilitas. Layanan krisis daring healing119.id telah dipakai 284.916 pengguna melalui telepon dan obrolan.
Ibu Hamil dan Nifas 7,1 Persen, Remaja 2,3 Persen
Skrining kesehatan jiwa dalam program Cek Kesehatan Gratis (CKG) sudah menjangkau 71,86 juta orang. Dari hasil itu, gejala depresi tertinggi ditemukan pada ibu hamil dan nifas, yakni 7,1 persen. Kelompok anak usia sekolah dan remaja menyusul dengan 2,3 persen.
"Ternyata kami temukan cukup banyak," ujar Endang soal hasil skrining tersebut.
Untuk menjaring kasus lebih awal, pemeriksaan kehamilan sebanyak enam kali kini memuat skrining kesehatan jiwa. Skrining serupa juga dilakukan setelah ibu melahirkan.
Temuan pada anak bukan hal baru bagi Kemenkes. Akhir Agustus lalu, kementerian itu juga melaporkan hasil skrining 7 juta anak yang menemukan gejala cemas dan depresi.
Sembilan dari Sepuluh Penderita Depresi Belum Terjangkau
Mengacu pada Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, prevalensi depresi pada penduduk berusia di atas 15 tahun sekitar 1,4 persen. Jika diekstrapolasi, jumlahnya sekitar 2,5 juta hingga 3 juta orang.
Dari jumlah itu, baru 12,7 persen yang mendapat pengobatan. SKI 2023 juga mencatat sembilan dari sepuluh orang dengan depresi belum terjangkau layanan kesehatan, seperti dikutip Editor.id.
Survei yang sama menemukan empat dari 1.000 keluarga memiliki anggota dengan psikosis akut atau skizofrenia. Sebanyak 6,6 persen dari keluarga tersebut mengaku pernah melakukan pemasungan.
"Kondisi gangguan jiwa merupakan penyebab kedua hilangnya tahun hidup sehat akibat disabilitas di Indonesia," kata Endang. Menurut paparan yang sama, gangguan jiwa juga masuk tiga besar beban kesehatan pada kelompok remaja dan dewasa.
ADHD dan Disleksia Ikut Dibahas
Kemenkes mengutip estimasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahwa ADHD dialami sekitar 2,7 persen anak usia 10–14 tahun dan 2,2 persen remaja usia 15–19 tahun. Prevalensi disleksia, menurut sebuah studi internasional tahun 2020, berkisar 5–20 persen.
Endang menekankan pentingnya dukungan dan penerimaan keluarga terhadap anak neurodivergen. Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes, Imran Pambudi, menambahkan bahwa stimulasi otak tidak hanya datang dari terapi, tetapi juga dari aktivitas sehari-hari.
Dengan 36 persen puskesmas yang belum siap, pertanyaannya kini adalah apakah tenaga dan obat untuk layanan jiwa bisa menyusul dalam dua tahun, terutama di daerah yang selama ini paling jauh dari psikolog dan psikiater.
Artikel ini bersifat informasi dan bukan pengganti diagnosis. Jika Anda atau orang terdekat mengalami gejala depresi atau gangguan kesehatan jiwa lainnya, konsultasikan dengan tenaga medis atau psikolog di fasilitas kesehatan terdekat.
Komentar (0)
Masuk untuk menulis komentar.
Belum ada komentar.