INACRAFT October 2026 Dibuka di JICC, Usung Techno Craft dan Bidik Transaksi Rp100 Miliar
Web:Inacraft
Lilin batik dari limbah sawit dan peta pameran berbasis web mungkin bukan hal pertama yang terlintas saat mendengar kata "kriya". Justru dua hal itu yang dipilih penyelenggara untuk menunjukkan arah baru salah satu pameran kerajinan paling dikenal di Indonesia.
Pameran kerajinan INACRAFT October Vol. 5 2026 digelar di Jakarta International Convention Center (JICC) mulai Rabu (7/10/2026) hingga Minggu (11/10/2026). Mengusung tema Techno Craft dengan visi "From Smart Village to Global Market", pameran ini menghadirkan 829 booth di lima hall dan menargetkan 80.000 pengunjung selama lima hari. Penyelenggaranya adalah Asosiasi Eksportir dan Produsen Handicraft Indonesia (ASEPHI) bersama Mediatama Event.
Jam Buka dan Harga Tiket
Pameran dibuka setiap hari pukul 10.00–21.00 WIB. Tiket masuk dijual Rp35.000.
Produk yang dipamerkan meliputi batik, tekstil, perhiasan, aksesori, dekorasi rumah, perlengkapan makan, cendera mata, hingga produk gaya hidup. Area kuliner Nusantara bernama TALAM tersedia di Hall B dan Mezzanine.
Teknologi Masuk ke Proses Produksi Kriya
Tema Techno Craft diterjemahkan lewat sejumlah inovasi yang dipamerkan. Salah satunya pemanfaatan limbah sawit sebagai bahan baku lilin batik. Pengunjung juga bisa melihat modernisasi proses tenun serta inovasi pengolahan keramik dan kayu.
Untuk pengunjung, panitia menyiapkan INACRAFT Wayfinder, platform navigasi berbasis web yang membantu mencari booth dan jadwal acara. Ada pula Digital Lounge dan Craft Experience Spot.
ASEPHI menggandeng Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Universitas Indonesia, Institut Seni Indonesia, serta sejumlah lembaga lain untuk program riset dan teknologi.
Kolaborasi itu diwujudkan dalam forum diskusi, lokakarya, dan inisiatif riset teknologi yang berjalan selama pameran. Bagi perajin dari daerah, sesi-sesi ini menjadi kesempatan melihat langsung bagaimana alat dan material baru bisa diterapkan di bengkel produksi mereka sendiri.
Ketua ASEPHI: Teknologi Bukan Pengganti Perajin
Ketua ASEPHI, Muchsin Ridjan, menegaskan bahwa teknologi tidak dimaksudkan menggantikan perajin. Menurutnya, teknologi berfungsi memperkuat proses produksi, desain, pengembangan material, pemasaran, hingga akses ke pasar internasional.
Ia juga menyebut penerapan teknologi diharapkan meningkatkan produktivitas, kualitas, inovasi, dan nilai produk, tanpa menghilangkan karakter budaya Indonesia.
Komposisi Peserta: Dari Anggota ASEPHI hingga BUMN
Dari 829 booth yang tersedia, sebanyak 713 diisi anggota ASEPHI. Sebanyak 85 booth ditempati perwakilan pemerintah daerah dan lembaga pemerintah, 15 booth oleh kementerian dan BUMN, serta 69 booth oleh peserta perorangan non-anggota.
Pameran juga menampilkan 59 peserta area TALAM dan 18 island display dari BUMN serta pihak lain. Bank Mandiri tercatat sebagai sponsor.
19 Youthpreneur dan Forum Bisnis ASEAN
Penyelenggara memberi panggung khusus bagi 19 pengusaha muda kriya atau youthpreneur. Untuk sesi temu bisnis B2B, panitia mengkurasi 30 youthpreneur yang akan dipertemukan dengan calon pembeli.
Agenda lainnya mencakup Craft Talks, lokakarya, dan ASEAN Business Forum yang membahas keberlanjutan serta akses pasar.
Target Rp100 Miliar dan Kontrak Ekspor $2,7 Juta
ASEPHI memasang target transaksi ritel Rp100 miliar selama lima hari pameran. Untuk perdagangan, targetnya kontrak senilai $2,7 juta dengan 120 calon pembeli internasional.
Angka itu baru bisa diukur setelah pameran ditutup pada Minggu malam. Yang lebih menarik untuk ditunggu adalah apakah inovasi seperti lilin batik dari limbah sawit benar-benar dilirik pembeli luar negeri, atau masih sebatas etalase teknologi di lantai pameran?
Komentar (0)
Masuk untuk menulis komentar.
Belum ada komentar.