CompileDaily
Layanan Kesehatan

145 Warga Serpong Lagoon Muntaber, Air Perumahan Positif E. coli dan WTP Disebut Tak Berizin

Admin CompileDaily ·
Bagikan WhatsApp X Facebook Threads

Keluhan soal air keruh sudah masuk ke puskesmas sejak pertengahan September. Baru tiga pekan kemudian, ratusan warga satu perumahan di Tangerang Selatan jatuh sakit nyaris bersamaan.

Sebanyak 145 warga Perumahan Serpong Lagoon, Kelurahan Keranggan, Kecamatan Setu, Tangerang Selatan (Tangsel), mengalami muntaber atau muntah dan diare. Hasil pemeriksaan laboratorium menemukan bakteri Escherichia coli (E. coli) pada air yang dipasok pengelola perumahan, menurut laporan detikNews pada Jumat (16/10/2026). Radar Banten pada hari yang sama menulis angka korban yang lebih tinggi, yakni 161 warga, dengan sebagian dirawat di rumah sakit.

Dari Air Keruh ke Gejala Serentak

Menurut kronologi yang dihimpun IDN Times Banten, pada 16 September 2026 seorang kader Puskesmas Keranggan menerima aduan bahwa air di Serpong Lagoon keruh. Petugas mengambil tiga sampel: dua dari rumah warga di Blok A dan B1, satu dari tangki instalasi pengolahan air.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan (Dinkes) Tangsel, Fitria Oriza, menjelaskan gejala demam, diare, mual, dan muntah muncul hampir bersamaan di beberapa RT pada 7 Oktober sekitar pukul 20.00 WIB. Satu hari kemudian jumlah penderita tercatat 27 orang. Penyelidikan epidemiologi dimulai pada 9 Oktober.

Angka Naik dari 27 ke 145, Lalu 161

Radar Banten menyajikan perkembangan jumlah penderita: 27 orang pada 8 Oktober, 137 orang pada 10 Oktober, 145 orang pada 12 Oktober, dan 161 orang pada hitungan terbaru. Lonjakan dari 27 ke 145 setara kenaikan sekitar 5,4 kali lipat dalam empat hari.

Pada 15 Oktober, Dinkes melaporkan sebagian anak masih dirawat di Eka Hospital. Fitria juga menyebut 58 pasien dirujuk dari Puskesmas Keranggan. Pemberitaan soal rincian usia pasien tidak seragam antarmedia, sehingga rincian itu tidak dipakai di sini.

Hasil Lab E. coli yang Belum Jelas Satuannya

Lihat Layanan Kami

detikNews melaporkan tiga hasil uji: sampel reservoir WTP (water treatment plant, instalasi pengolahan air) 14, sampel rumah warga yang memakai filter 660, dan sampel rumah tanpa filter 956. Artikel itu tidak menyebut satuan angka tersebut. Radar Banten mengutip Camat Setu, Bunga Pranatalia Putri, yang menyebut sebagian sampel mencapai angka 900, juga tanpa satuan.

Karena satuannya tidak dijelaskan, angka-angka itu belum bisa dibandingkan dengan baku mutu air minum. Jalur kontaminasi pun masih ditelusuri. Petugas menduga kasus ini sebagai continuous common source outbreak, yaitu wabah dari satu sumber bersama yang terpapar terus-menerus. WTP menjadi sumber yang dicurigai karena warga memakai airnya untuk mencuci, menyikat gigi, dan sebagian untuk memasak.

WTP Disebut Tak Pernah Berizin

R. Budi Firmansyah, Kepala Bidang Air Minum dan Air Limbah di Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang (DCKTR) Tangsel, mengatakan pada Kamis (15/10/2026) bahwa WTP itu tidak memiliki izin pengelolaan air sejak awal berdiri. Pemerintah daerah, menurutnya, sedang mengupayakan skema kerja sama, tetapi belum ada kesepakatan bersama. Sumber pemberitaan berbeda soal nama pihak yang diajak bekerja sama dan nama perusahaan pengelola, sehingga keduanya tidak disebut di sini.

Wakil Wali Kota Tangsel Pilar Saga Ichsan menyatakan pengelola harus ikut bertanggung jawab menyediakan air bersih. Ia juga mengatakan, "WTP ini bisa dibenahi secara total. Bukan pembenahan sedikit-sedikit."

Langkah Penanganan di Lapangan

Pemakaian air dari WTP dihentikan sementara sampai hasil pemeriksaan memastikan kualitasnya memenuhi syarat. Pengelola diminta menyediakan air bersih alternatif yang kualitasnya diawasi Dinas Lingkungan Hidup dan Dinkes. Mereka juga diminta membersihkan dan mendesinfeksi instalasi, mengoptimalkan klorinasi, serta memeriksa jaringan pipa dari kemungkinan kebocoran. DCKTR akan mengevaluasi apakah masalahnya ada di pengolahan atau di jaringan distribusi.

Pertanyaan yang belum terjawab ada dua: berapa angka akhir korban setelah penyelidikan epidemiologi rampung, dan kapan air bersih alternatif benar-benar menggantikan pasokan WTP bagi seluruh warga.

Artikel ini bersifat informasi dan bukan pengganti diagnosis. Warga yang mengalami diare berat, muntah terus-menerus, demam tinggi, atau tanda dehidrasi sebaiknya segera berkonsultasi dengan tenaga medis.

Komentar (0)

Masuk untuk menulis komentar.

Belum ada komentar.

Kami memakai cookie untuk analisis kunjungan. Baca Kebijakan Privasi kami.